Dosa Besar – Banyak Berdusta

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Allah berfirman, maksudnya:

“Lalu kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”. (Surah Ali Imran, Ayat 61)

“Binasalah orang-orang yang sentiasa mengeluarkan pendapat dengan cara agak-agak sahaja”. (Surah Az-Zariyat, Ayat 10)

“Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang yang melampaui batas, lagi pendusta”. (Surah Ghafir, Ayat 28)

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:

“Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada syurga. Seseorang itu akan terus berlaku jujur dan berhati-hati agar selalu jujur sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai seorang “shiddiq” (orang yang jujur). Dan sesungguhnya kedustaan itu menunjukkan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang itu akan terus berdusta dan membiasakan diri dengannya sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai seorang “kazzab” (pendusta)”. [1]

Mereka berdua juga meriwayatkan sebuah hadith yang bermaksud, “Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang itu mengerjakan sembahyang, puasa dan mendakwa sebagai seorang Islam, jika bercakap berdusta, jika berjanji mungkir dan jika diberi amanah berkhianat”. [2]

Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya, “Empat perkara yang apabila terkumpul pada diri seseorang maka dia benar-benar seorang munafik tulen. Dan barangsiapa terdapat padanya salah satu dari empat bermakna ada sifat munafik pada dirinya sehingga dia meninggalkannya. Keempat perkara itu adalah, jika bercakap berdusta (pent) , jika diberi kepercayaan berkhianat, jika berjanji memungkirinya dan jika bertengkar berbuat jahat. [3]

Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadith tentang mimpi Nabi s.a.w. Baginda bersabda, “Lalu kami sampai kepada seseorang yang berbaring telentang, manakala yang lain berdiri di atasnya dengan sepotong besi yang bengkok pada hujungnya. Orang itu menghiris sudut mulutnya sampai ke tengkuknya. Kemudian orang itu bergerak ke bahagian yang lain untuk melakukan perkara yang sama seperti yang dilakukannya di tempat yang pertama. Sebelum dia kembali ke tempat pertama, orang yang disiksa itu sudah kembali seperti asal. Lalu orang itu melakukan lagi apa yang telah dilakukannya tadi. Begitulah terus berulang-ulang sampai hari kiamat. Aku bertanya kepada keduanya (Jibril dan Mikail). “Siapakah orang ini?”. “Dia adalah orang yang keluar dari rumahnya lalu berbuat dusta sampai mencapai ufuk”, jawab keduanya”. [4]

Rasulullah s.a.w bersabda, “Seorang mukmin itu dikenali pada semua sifat selain sifat khianat dan dusta”.

Dalam hadith yang lain disebutkan, “Jauhilah prasangka kerana sesungguhnya prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta”. [5]

Rasulullah s.a.w juga bersabda, “Tiga golongan manusia yang pada hari kiamat nanti tidak akan diajak bercakap oleh Allah, tidak akan dipandang oleh-Nya, serta tidak akan dibersihkan oleh Allah dan bagi mereka azab yang pedih. Mereka adalah lelaki tua yang berzina, raja yang suka berdusta dan orang miskin yang sombong”.

Baginda juga bersabda: “Celakalah orang yang bercakap dengan suatu percakapan dusta untuk membuat orang lain ketawa, celakalah dia, celakalah dia, celakalah dia”. [6]

Yang lebih besar dosanya dari itu adalah sumpah palsu, sebagaimana Allah memberitahu sifat orang-orang munafik dalam firman-Nya:

“Dan lagi mereka selalu bersumpah dengan dusta, sedangkan mereka mengetahui (bahawa mereka adalah berdusta)”. (Al-Mujadilah: 14)

Dalam sebuah hadith sahih Rasulullah bersabda, “Tiga golongan manusia yang pada hari kiamat nanti tidak akan diajak bercakap oleh Allah, tidak akan dibersihkan oleh Allah, dan bagi mereka azab yang pedih. Mereka adalah orang yang memiliki kelebihan namun ia menahannya dari musafir, orang yang membaiat (memberi taat setia) kepada seorang pemimpin dengan tujuan keduniaan; jika pemimpin itu memberinya sesuatu maka dia akan setia, tetapi jika tidak dia pun tidak setia, orang yang menjual barang kepada seseorang setelah Asar dengan bersumpah menyebut nama Allah bahawa dia telah membelinya sekian-sekian lalu pembelinya mempercayainya dan membelinya padahal sebenarnya tidak demikian.” [7]

Rasulullah s.a.w bersabda, “Adalah satu perkhianatan yang besar jika engkau bercakap kepada saudaramu dengan percakapan dusta, sedangkan dia mempercayaimu”. [8]

Dalam hadith lain, “Barangsiapa mengaku telah bermimpi melihat sesuatu padahal dia tidak bermimpi begitu, nescaya kelak akan dipaksa untuk mengikatkan antara dua biji gandum, sedangkan sekali-kali dia tidak dapat melakukannya”. [9]

Rasulullah s.a.w juga bersabda, “Sebesar-besar kedustaan terhadap Allah adalah seseorang yang mengaku melihat sesuatu yang tidak dilihatnya”. [10]

Ibnu Mas’ud berkata, “Seseorang itu akan berterusan berdusta dan mencari-cari cara untuk berdusta sehingga satu titik hitam dititikkan di hatinya. Begitulah sehingga hitam seluruh hatinya dan dia ditulis di sisi Allah sebagai salah seorang pendusta”.

Hendaklah seorang muslim itu menjaga lidahnya dari bercakap selain percakapan yang benar-benar mendatangkan “maslahah” (kebaikan atau manfaat). Di dalam diam itu ada keselamatan, dan keselamatan itu tidak dapat ditandingi oleh apa pun.

Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadith dari Abu Hurairah sebagaimana berikut:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia bercakap baik atau diam”.

Hadith yang disepakati kesahihannya ini hendaklah menjadi dalil yang tegas bahawa seseorang itu tidak patut bercakap kecuali jika percakapannya baik, percakapan yang benar-benar akan mendatangkan maslahah (kebaikan) kepada orang yang bercakap.

Abu Musa bercerita, aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang Islam yang paling baik? Baginda bersabda,“Orang yang orang-orang Islam selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. [11]

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan,

“Sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengucapkan satu kalimat yang tidak pernah terlintas dalam fikirannya bahawa kalimat itu haram diucapkan, tetapi ucapan itu telah menggelincirkannya di dalam neraka melebihi jauhnya timur dan barat”.

Dalam kitab Al-Muwatha’, Imam Malik meriwayatkan dari Bilal bin Haris al-Muzni bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:

“Sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang diredhai Allah ta’ala padahal dia tidak pernah menyangkanya sampai sedemikian akibatnya. Allah ta’ala menetapkan keredhaan-Nya baginya hingga hari berjumpa denganNya. Dan sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang dimurkai Allah ta’ala padahal dia tidak pernah menyangkanya sampai sedemikian akibatnya, Allah ta’ala menetapkan kemurkaan-Nya atasnya hingga hari berjumpa dengan-Nya”. [12]

Hadith-hadith sahih seperti yang telah kami sebutkan di atas banyak sekali, namun apa yang telah kami sebutkan itu rasanya sudah mencukupi.

Sebahagian ulama’ pernah ditanya, “Berapa banyak aib yang anda dapati pada diri anak Adam?”. Ulama’ itu menjawab, “Terlalu banyak untuk dapat dihitung. Yang dapat aku hitung saja ada 8,000 aib. Dan aku mendapati satu perkara jika seseorang memegangnya erat-erat seluruh aibnya akan tertutup, iaitu memelihara lidah”.

NOTA KAKI

1. Hadith diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6094), Muslim (2607), Ibnu Hibban (273) dan Al-Baihaqi (10/243) dari Ibnu Mas’ud.

2. Hadith Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (33) Muslim (59), At-Tirmizi dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah.

3. Hadith sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (34), Muslim (58), Abu Daud (4688), At-Tirmizi (2768) dan Ahmad (2/189) dari Ibnu Mas’ud.

4. Hadith Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

5. Hadith diriwayatkan oleh Malik (2/907-908), Ahmad (2/465, 517), Al-Bukhari (6066), Muslim (2563), Abu Daud (4917), Ibnu Hibban (5687) dan Al-Baihaqi (6/85) dari Abu Hurairah.

6. Hadith diriwayatkan oleh Abu Daud (4990), At-Tirmizi (2315), Ad-Darimi (692), Ahmad (5/5), Ath-Thabrani (19/403/950), Hannad dalam Az-Zuhd (1150), Al-Hakim (1/46), Al-Baihaqi (4491), Asy-Syu’ab dan Al-Khathib (4/4) dari Bahz bin Hakim dari bapanya dan datuknya. Dan dihasankan oleh Asy-Syaikh dalam Shahih Al-Jami (7013).

7. Hadith sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2358), Muslim (108), Abu Daud (3474), An-Nasa’i (7/246), Ibnu Majah (2207) dan Ahmad (2/480) dari Abu Hurairah.

8. Diriwayatkan oleh Hanad dalam Az-Zuhd (1384), Ahmad (4/183), Ibnu Adi (1/50), Al-Baihaqi Asy-Syu’ab (4479) dan Abu Nu’aim (6/99) dari An-Nawwas bin Sam’an, dan didhaifkan oleh Asy Syaikh dalam Adh-Dha’ifah (1251).

9. Hadith diriwayatkan oleh Al-Humaidi (531), Ahmad (1/216,359), Al-Bukhari (7042), Ath-Thabrani (11831, 11923) Ibnu Hibban (5685) dan Al-Baihaqi (7/269) dan Ibnu Abbas.

10. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/106), Al-Bukhari (3509), Ath-Thabrani (22/72/178), Al-Baihaqi Asy-Syu’ab (4490) dan Al-Khatib dalam Al-Jami’ (1289) dan Watsilah bin Al-Asqa’.

11. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (11) dan Muslim (42).

12. Diriwayatkan oleh Malik (2/985) dan dari jalurnya oleh Ath-Thabrani (1 369/1134). Hanad dalam Az Zuhd (1141) dan darinya At-Tirmidzi (2319), Ibnu Majah (3969), Ahmad (3/489), Ibnu Abi Dunya dalam Ash-Shamtu (1129), Al-Humaidi (911), Ibnu Mubarak dalam Az Zuhd (13394) dan dari jalurnya oleh Al-Baghawi (4125), Ath-Thabrani (1/369/1136), Al-Hakim (1/45), Al-Baihaqi dal Asy-Syu’ab (4606) dan disahihkan oleh Asy-Syaikh dal Ash-Shahihah (886).

· Nota: Saringan oleh Kumpulan Web Darulkkautsar  dari buku terjemahan “Al-Kabair (Dosa-dosa Besar)’ karangan Imam Az-Zahabi. Buku terjemahan asal boleh dicapai di sini- https://drive.google.com/file/d/0B0r1wFGeMOw5eDdpZjM4a2YyRG8/edit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s