TETAMU TERAKHIR

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Saudaraku, tahukah siapa tetamu terakhir yang akan mengunjungimu? Tahukah anda apa tujuan ia menziarahi dan menemuimu? Apakah hajatnya darimu?

Ketahuilah! Ia tidak datang kerana dahagakan hartamu, atau kerana ingin menikmati hidangan lazat bersamamu, atau meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, atau memintamu memberikan sokongan kepada seseorang atau untuk menyelesaikan urusan yang tidak mampu ia selesaikan!

Tetamu ini datang untuk satu urusan penting yang telah ditetapkan. Anda dan keluarga anda malah seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menggagalkannya dalam misinya tersebut!

Walaupun anda tinggal di istana-istana yang tinggi, berlindung di benteng-benteng yang kukuh dan di menara-menara yang kuat, dikawal dengan ketat, anda tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menunaikan urusannya denganmu!

Untuk menemuimu, ia tidak perlu pintu masuk, atau meminta izin, dan membuat temujanji terlebih dahulu sebelum datang. Ia akan datang bila-bila dan dalam keadaan apapun; ketika kamu sedang sibuk ataupun lapang, sedang sihat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang melarat, ketika kamu sedang bemusafir atau pun tinggal di tempatmu!

Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang lemah. Ia tidak akan terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan sahabat-sahabat yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk menilai semula perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali urusanmu!

Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak bererti apa-apa baginya dan tidak membuatnya berpaling dari tujuan asalnya!

Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu semuanya bukan separuh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!

Allah s.w.t berfirman, artinya:

“Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang ditugaskan untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Surah As-Sajdah, Ayat 11)

Dan firman-Nya, ertinya:

“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (Surah Al-An’am, Ayat 61)

Kereta Usia

Tahukah kamu bahawa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahawa kita semua menjadi musafir di tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kenderaannya untuk berhenti?

Tahukah kamu bahawa pusingan kehidupan hampir akan terhenti dan “kereta usia” sudah mendekati destinasi terakhirnya? Sebahagian orang soleh mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?”

Berhati-hatilah!

Semoga anda tidak termasuk orang yang Allah s.w.t. sebutkan, mafhumnya:

“Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (Surah Muhammad, Ayat 27)

Atau firman-Nya, mafhumnya:

“(Iaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), “Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu”. (Surah An-Nahl, Ayat 28-29)

Tahukah kamu bahawa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitimu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?

Tahukah kamu, setelah kunjungannya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan solat dua raka’at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa walaupun sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?

‘Kontrak’ amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!

Allah s.w.t. berfirman, yang bermaksud :

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang soleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (Surah Al-Mu’minun, Ayat 99-100)

Persiapkanlah Dirimu!

Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu untuk menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Allah Al-Jabbar?

Dari ‘Adi bin Hatim r.a. dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penterjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih malang darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Kerana itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik”. (Muttafaqun ‘alaih)

Hitungkanlah Dirimu!

Saudaraku, bermuhasabahlah ke atas dirimu di saat masa lapang mu, fikirkanlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa lapangmu untuk masa sulit dan keperluanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan dicatit di lembaran amalmu.

Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cubaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan bertolak ansur denganmu!

Saringan dari artikel yang dari www.alsofwah.or.id dari artikel Az-Zâ’ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih oleh Abu Shofiyyah.

Tapi Kamu Bagai Buih…

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Asy Syaikh Salim Al Hilali

Hakikatnya telah pun diisyaratkan, peringatannya adalah jelas, tanpa keraguan. Jelas tanpa kekaburan. Terang tanpa terselubung kabus yang menutup pandangan.

Dalam   hadith   dari   Tsauban   r.a   maula   Rasulullah   s.a.w   ketika   beliau   berkata:

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya. “Salah seorang Sahabat berkata; “Apakah kerana kami sedikit ketika itu?” Nabi berkata: Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang dihanyutkan air ketika banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn”

Kata para Sahabat: “Wahai Rasulullah, apakah Wahn itu?”

 Baginda bersabda: “Cinta dunia dan takut mati”.

(Hadith Riwayat Abu Daud no. 4297, Ahmad 5/278, Abu Nu’aim dalam At Hilyahm.s. 182 dengan dua jalan dan dengan keduanya hadith ini menjadi sahih)

Hadith yang menceritakan tentang “wahn” ini menunjukkan keadaan umat Islam:

Pertama: Musuh-musuh Allah dari kalangan tentera Iblis serta pendukung syaitan selalu mengintai-ngintai perkembangan ummat Islam serta negara mereka. Kerana mereka telah melihat penyakit “wahn” ini telah merasuki kaum muslimin. Penyakit ini telah menyembelih leher-leher ummat Islam. Maka mereka menerkamnya dan menyembunyikan sisanya.

Kaum kuffar dan musyrikin ahlul kitab selalu melakukan hal demikian sejak munculnya fajar Islam. Dan ini berlaku ketika daulah Islam yang murni yang diasaskan dan dikukuhkan oleh Rasulullah s.a.w di Madinah dan sekitarnya.

Ini ditegaskan dalam hadith yang menceritakan tiga orang yang sengaja tidak ikut berperang (Hadith riwayat  al-Bukhari dan Muslim), sebagaimana dikatakan oleh Ka’ab bin Malik r.a.: “…Ketika aku berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang petani dari petani-petani negeri Syam  yang membawa makanan untuk dijual di Madinah berkata: Siapa yang boleh menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku? Maka orang ramai memberitahunya, lalu dia datang kepadaku dan menyerahkan kepadaku sepucuk surat dari raja Ghassan. Dan aku adalah seorang yang pandai membaca, maka aku baca surat itu yang tertulis: Amma ba’du, telah sampai kepada kami berita bahawa teman-temanmu bersikap keras kepadamu. Dan Allah tidak akan membiarkanmu berada di negeri yang penuh dengan kehinaan dan kesempitan, maka datanglah dan bergabunglah dengan kami, kami akan melindungimu”.

Perhatikan, wahai saudara muslim yang bijaksana dan cuba renungkan, wahai saudara yang dikasihi, bagaimana orang-orang kafir selalu mengawasi berita-berita daulah Islam. Bila ada kesempatan, mereka akan menerkamnya dari segala penjuru. Itu juga dijelaskan dengan:

Kedua: Sesungguhnya ummat-ummat kafir saling membantu dan bergabung untuk menyerang Islam, daulahnya, pemeluknya dan para da’inya.

Siapa yang membaca sejarah perang Salib, akan memahami hakikat ini, di mana Bani Ashfar mempersiapkan pasukannya untuk membinasakan daulah khilafah. Telah jelas hal ini  seperti jelasnya cahaya matahari di tengah hari.

Dan mereka menyempurnakannya dengan membentuk “Kelompok”, kemudian “Badan Organisasi”, kemudian “Dewan”, kemudian “Organisasi Dunia”, untuk membakar semangat mereka dengan slogan-slogan. Juga:

Ketiga: Negeri-negeri Islam adalah sumber-sumber kebaikan dan berkah. Maka ummat- ummat kafir ingin menguasainya. Oleh kerana itu Rasulullah s.a.w menyamakannya dengan makanan yang lazat yang membuka selera, maka mereka menyerbunya, dan setiap dari mereka seolah macam singa ingin mendapat bahagiannya.

Keempat: Orang-orang kafir membuat negeri-negeri Islam menjadi kelompok yang terpecah-pecah dan terpisah-pisah, sebagaimana dalam hadith Abdullah bin Hawalah r.a.: Rasulullah s.a.w:

“Nanti kamu akan menjadi pasukan yang berpuak-puak. Satu kelompok di Syam, satu kelompok di Iraq, dan satu kelompok di Yaman.” kata Sahabat: Berilah pilihan, wahai Rasulullah. Maka beliau bersabda: “Pilihlah yang di Syam, siapa yang enggan, maka yang di Yaman. Dan hendaklah dia minum dari airnya, kerana Allah menjaminkan untukku negeri Syam dan penduduknya”.

Rabi’ah berkata: Aku mendengar Idris Al Khaulani menyampaikan hadis ini dan berkata: “Dan siapa yang dijamin Allah tidak akan rugi”.

Bukankah ini realiti umat Islam masa kini? Mereka menjadi negara-negara yang terpisah. Tidak punya wibawa. Tidak mempunyai kuasa untuk mengurus sama ada di dalam dan di luar negerinya dengan bebas. Semuanya diatur oleh orang kafir. Hanya Allah yang kita minta pertolongannya dan kepadanya kita bertawakkal.

Kelima: Kini, orang kafir tidak hormat lagi kepada kaum muslimin, kerana mereka (kaum muslimin) sudah kehilangan wibawanya di hadapan umat-umat lain. Yang mana suatu ketika dulu wibawa itu membuat gementar lutut dan sendi-sendi orang kafir dan pasukan Iblis. Ini adalah kerana senjata pemusnah milik kaum muslimin tidak lagi ditakuti oleh orang kafir.

Allah berfirman:

Kami akan isikan hati orang-orang kafir itu dengan perasaan gerun, disebabkan mereka mempersekutukan Allah“. (Surah Ali Imran, Ayat  151)

Rasulullah s.a.w bersabda;

“Aku ditolong Allah dengan musuh mengalami rasa takut, padahal aku masih sebulan perjalanan ke sana”.

Keenam: Unsur-unsur kekuatan ummat Islam bukan pada ramai jumlahnya dan kekuatannya, pasukan tempurnya dan kesombongannya, pasukan infantrinya dan para komandannya, tapi pada aqidahnya dan manhajnya. Kerana umat ini adalah umat tauhid dan pendokong panji-panji tauhid.

Apakah engkau tidak dengar sabda Rasulullah s.a.w ketika menjawab pertanyaan seorang Sahabat tentang jumlah: “Bahkan kamu ketika itu ramai!”?

Perhatikan pengajaran dari perang Hunain, akan engkau dapati dia menjadi contoh di sepanjang masa.

“…dan di medan perang Hunain, iaitu semasa kamu merasa megah dengan sebab bilangan kamu yang ramai; maka bilangan yang ramai itu tidak mendatangkan faedah kepada kamu sedikitpun. ” (Surah At Taubah, Ayat 25)

Ketujuh: Kedudukan umat Islam tidak dihiraukan sedikitpun di kalangan bangsa-bangsa di muka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w: “Akan tetapi kamu bagai buih, seperti buih banjir.”

Sabda ini menjelaskan beberapa hal:

  1. Buih yang mengalir membawa banyak kotoran bersamanya. Begitu juga umat Islam, berjalan bersama kotoran umat kafir.
  • Banjir membawa buih yang tidak bermanfaat bagi manusia. Begitu juga umat Islam, tidak melaksanakan tanggungjawabnya terhadap bangsa-bangsa lain, iaitu Amar Ma’ruf dan  Nahi Mungkar.
  • Buih akan segera luput. Dan kerana itu Allah akan mengganti siapa yang berpaling dan menguatkan kelompok yang bermanfaat bagi manusia di muka bumi.
  • Buih yang dibawa banjir bercampur dengan kotoran tanah. Begitu juga pemikiran    majoriti umat Islam telah dikotori dengan sampah filsafat dan budaya yang rosak.
  • Buih yang dibawa oleh banjir tidak tahu akan berakhir di mana kerana dia berjalan bukan atas keinginannya. Dia seperti orang yang menggali kuburnya dengan kukunya. Begitu juga umat Islam, tidak tahu apa yang sedang direncanakan musuh-musuhnya ke atas diri  mereka. Anehnya, mereka masih saja membebek dan mengikuti mana yang lebih keras laungannya dan bersikap bagai pucuk lalang yang bergerak ke mana angin meniupnya.

Kelapan: Umat Islam menjadikan dunia sebagai matlamat utamanya. Matlamatnya ketika menuntut ilmu. Oleh kerana itulah mereka menjadi takut mati. Cinta dunia kerana mereka memeriahkan dunia hingga lupa kepada kampung akhirat.

Rasullullah   s.a.w   telah   mengingatkan    hal    yang    bakal    menimpa    umatnya. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash dari Nabi s.a.w, Baginda bersabda: Bila Parsi dan Rom ditakluk, di kaum mana kamu? Abdurrahman bin Auf berkata: Kami akan berposisi seperti yang Allah perintahkan kami (iaitu akan memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya dan meminta tambahan dari nikmat-Nya. (Lihat An Nawawi 18/96),

Kata Baginda: Jangan sampai selain itu, iaitu kamu akan saling berlumba-lumba, kemudian saling mendengki, kemudian saling membelakangi, kemudian saling membenci – atau yang sejenisnya – kemudian kamu berjalan di hadapan muhajirin yang miskin dan sebahagian kalian memakan sebahagian”. (Hadith riwayat Muslim no. 2962)

Oleh kerana itu ketika diserahkan perbendaharaan Parsi, Umar bin At Khaththab r.a.  menangis dan berkata: “Sesungguhnya harta ini jika dibukakan kepada suatu umat, Allah jadikan permusuhan di antara mereka”.

Kesembilan: Orang-orang kafir tidak akan mampu menghancurkan umat Islam, walau mereka bersatu dari segala penjuru – dan mereka memang sudah bersatu -, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam hadith Tsauban r.a., beliau berkata: Rasulullah s.a.w bersabda:

Sesungguhnya Allah telah melipat bumi ini bagiku, maka aku melihat bahagian timur dan baratnya. Dan umatku akan sampai kekuasaan mereka seperti yang ditunjukkan kepadaku. Aku juga diberi perbendaharan merah dan putih (emas dan perak yang itu adalah harta benda kerajaan Parsi dan Rom) dan aku meminta kepada Allah untuk umatku agar tidak dibinasakan dengan kelaparan setahun yang membinasakan mereka. Dan agar jangan sampai mereka dikuasai musuh selain diri mereka sendiri hingga akan dihancurkan mereka hingga akar-akarnya”. Dan Allah telah berfirman :

“Wahai Muhammad, Sesungguhnya Aku bila menetapkan suatu ketetapan, maka itu tidak mampu ditolak. Aku memberikan bagi umatmu untuk tidak dibinasakan dengan kelaparan setahun. Dan Aku tidak jadikan berkuasa mereka satu musuhpun selain diri sendiri yang akan menyerang mereka sendiri walau musuhnya sudah bersatu dari berbagai penjuru. Hingga di antara mereka sendiri yang saling menghancurkan satu sama lain”. (Hadith riwayat Muslim  no. 2889)

Maka apa yang mampu membuat sebuah pohon yang teguh yang akarnya menancap ke bumi dan cabangnya mencakar ke langit menjadi sia-sia?!

Disaring dari : Buletin Dakwah Al Minhaj Edisi VI/Th.I ( www.darussalaf.or.id )

Mereka Yang Menggenggam Bara Api

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al Hilaly

Dari Abu Umayyah Asy Sya’baniy berkata: Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah: “Ya Aba Tsa’labah apa yang engkau katakan tentang ayat Allah yang bermaksud :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah sahaja diri kamu (dari melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah). Orang-orang yang sesat tidak akan mendatangkan mudarat kepada kamu apabila kamu sendiri telah mendapat hidayat petunjuk (taat mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya) (QS. AlMaidah: 105)

Berkata Abu Tsa’labah:

“Demi Allah, aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w tentang ayat itu, maka beliau bersabda yang maksudnya:

“Beramar ma’ruf dan nahi mungkarlah kamu sehingga (sampai) kamu melihat kebakhilan sebagai perkara yang dita’ati, hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang diagungkan (setiap orang mengatakan dirinya di atas agama Islam dengan dasar hawa nafsunya. Dan Islam bertentangan dengan apa yang mereka sandarkan pada kamu (tetaplah diatas diri-diri) dan tinggalkanlah orang-orang awam kerana sesungguhnya pada hari itu adalah hari yang penuh dengan kesabaran (hari di mana seseorang yang sabar menjalankan al haq dia akan mendapatkan pahala yang besar dan berlipat kali ganda). Seseorang yang bersabar pada hari itu seperti seseorang yang memegang sesuatu di atas bara api, seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya.”

Seseorang bertanya kepada Rasulullah s.a.w yang artinya: “Ya Rasulullah, pahala 50 orang dari mereka?” Rasulullah s.a.w berkata: “Pahala 50 orang dari kamu (para Sahabat Rasulullah s.aw.)”

{HR. Abu Daud: 4341, At Tirmizi: 3058, dan dihasankan olehnya; Ibnu Majah: 4014, An Nasai dalam kitab Al Kubro: 9/137-Tuhfatul Asyrof, Ibnu Hibban: 1850-Mawarid, Abu Nuaim dalam Hilyatul Aulia: 2/30, Al Hakim: 4/322- disahihkan dan disetujui oleh Az-Zahabi, Ath Thahawi dalam Misykalul Atsar: 2/64-65, Al Baghawi dalam Syarhu Sunnah: 14/347-348 dan dalam Ma’alimul Tanzil: 2/72-73,Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Jamiul Bayan: 7/63, Ibnu Wadloh Al Qurtubi dalam Al bida’u wa nahyuanha: 71, 76-77; Ibnu Abi Dunya dalam Ash Shobr: 42/1} Hadits Tsabit dari Rasulullah dengan syawahidnya (jalan lainnya).

Dalam hadis Rasullullah s.a.w di atas menunjukkan:

– Kewajiban untuk terus beramal ma’ruf nahi munkar sampai datang masa yang disifatkan oleh Rasulullah s.a.w.

Masa yang disifatkan oleh Rasullulllah s.a.w tersebut menunjukkan bahawa tidak bermanfaat lagi amal ma’ruf nahi munkar kerana disebabkan kerosakan manusia pada waktu itu.

Terkadang ada pertanyaan yang mengatakan: bagaimana derajat pahala yang diberikan orang-orang yang bersabar dalam beramal di atas al haq pada waktu itu berlipat kali ganda dibandingkan dengan amalan para sahabat r.a? Di mana, mereka adalah generasi pertama

yang membangun Islam, menegakkan cahaya Islam, membuka negeri-negeri, meninggikan kekuasaan dan menancapkan Agama Allah.

Dan Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya : “Sekiranya kamu menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud setiap hari, tidak akan dapat menyamai mereka (para sahabat Rasullullah s.a.w) meskipun setengahnya.” {Hadis sahih, lihat takhrijnya dalam (Juz’u Muhammab bin Ashim An Syuyukhihi: 12)}

Maka jawabannya adalah sesungguhnya para sahabat Rasulullah s.a.w adalah generasi yang telah masyhur amalannya, tiada satupun manusia setelah generasinya yang sebanding amalannya dengan mereka. Mereka telah menjalankan amal ma’ruf nahi munkar sebagai perkara yang besar untuk membuka dan mengukuhkan agama Allah iaitu Al-Islam.

Bilangan mereka di awal Islam sangat sedikit disebabkan kerana berkuasanya orang-orang kafir di atas al haq. Demikian juga di akhir zaman akan kembali keadaannya seperti di awal kemunculan Islam. Di mana janji tersebut dipersaksikan di atas lisan yang selalu benar perkataannya iaitu Rasulullah s.a.w. yang telah menceritakan akan terjadinya kerosakan zaman, munculnya fitnah, berkuasanya kebatilan, berkuasanya dan tingginya manusia dalam mengganti dan merubah al haq, terjatuhnya kaum muslimin kepada jalan yang ditempuh oleh golongan ahli kitab sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.

Rasulullah s.a.w. bersabda yang ertinya: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana datangnya.” (Hadits Mutawatir, lihat kitab: Tuba lil Ghuroba, Al Ghurbatu wal Ghuroba, Penerbit Darul Hijroh, Damam)

Maka pasti terjadi – Wallahu a’lam – keadaan yang telah dijanjikan oleh Ash Shoodiq (yang benar perkataannya) s.a.w iaitu Islam akan kembali seperti awalnya di mana lemahnya amar ma’ruf nahi munkar sehingga seseorang yang berdiri menjalankan al haq dalam keadaan dilingkupi ketakutan dan dia telah menjual dirinya kepada Allah dalam doanya, sehingga Allah lipat gandakan pahalanya lebih besar dari pada keadaan para sahabat r.a. yang mereka adalah orang orang yang “mutamakin” (tetap dan kuat) dalam beramar maruf nahi mungkar, dan pada waktu itu banyak sekali orang yang memberikan pertolongan kepada orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar serta banyak sekali orang yang menyeru kepada Allah Ta’ala (yakni pada zaman shahabat).

Dan ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w iaitu ketika beliau mengkhabarkan bahawa pahala mereka akan dilipatgandakan sama dengan 50 orang amalan yang dilakukan oleh para sahabat r.a. yang kemudian Nabi s.a.w mengatakan (ertinya): “Kerana sesungguhnya kamu (para sahabat) di atas kebaikan dan dalam keadaaan kamu mendapat banyak pertolongan sedang mereka dan orang-orang yang beramal di atas al haq (di akhir zaman) tidak mendapat pertolongan.”

Sehingga akhirnya sampailah pada zaman terputusnya amal kebaikan (tidak ada lagi orang- orang yang menjalankan amal kebaikan) kerana lemahnya keyakinan dan agama. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w yang ertinya: “Tidak akan tegak hari kiamat sampai tidak disebut (dikatakan) di bumi lafaz: “Allah Allah”. {HR.Muslim dari Anas bin Malik r.a.}

Hadis ini mempunyai makna tidak ada seorang muwahid (orang yang mentauhidkan Allah) pun yang tinggal di  bumi, yang berzikir mengucapkan lafadz  „laa ilaaha illallah‟ dan tidak seorang pun yang beramar ma’ruf nahi mungkar mengucapkan: “Aku takut kepada Allah”.

Apabila demikian keadaannya, seseorang yang berakal pada waktu itu menginginkan (berangan-angan) untuk mati sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w (ertinya): “Tidak akan

tegak hari kiamat sehinggga seseorang berjalan dikubur saudaranya (seseorang) kemudian berkata: ‘Sekiranya aku menempati tempatnya.’ (Muttafaqun’alaih, dari hadis Abu Hurairah r.a.)

Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan tarbiyah dan bukan hizbi (golongan yang berbangga dengan kelompoknya).

Mereka adalah orang-orang yang teguh di atas asas Al-Qur’an dan AsSunnah, berdiri menghiasi dirinya dengan dakwah kepada keduanya dengan berlandaskan manhaj (jalan) kenabian, tidak tergoyahkan dengan nama, alamat, dan bentuk. Kerana sesungguhnya kedudukan ini adalah bahagian dari syi’ar-syi’ar ubudiyah (peribadatan) yang digariskan di atas petunjuk Rasulullah s.a.w dan para sahabatnya.

Berkata Al-Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziah ketika menyebutkan tanda orang-orang yang selalu menjalankan peribadatan (di atas dalil) dalam kitabnya Madarijus Salikin juz  III/174):

“Mereka tidak menyandarkan dirinya pada suatu nama yang dengan nama tersebut mereka masyhur di kalangan manusia; tidak membatasi dengan satu amal dari sekian banyak amal yang dengannya dikenal manusia (hanya setakat satu amalan) kerana hal ini menyebabkan mudharat dalam peribadatan; tidak dibatasi dengan nama tertentu yang menyebabkan perbezaan dan perpecahan; tidak terkait dengan formaliti, isyarat, kesempurnaan dan peraturan yang ditetapkan. Bahkan sebaliknya, apabila ditanya:

Siapa syaikhnya?

Dia akan menjawab: “Rasulullah s.a.w” Apa jalan yang ditempuh?

Dia akan menjawab: “Al-ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah s.a.w) Apa pakaiannya?

Dia akan menjawab: “Pakaiannya adalah taqwa.” Apa mazhabnya?

Dia akan menjawab: “Berhukum di atas Assunnah” Apa yang dituju dan dicari?

Dia akan menjawab: “Mereka menghendaki wajah Allah”. (Q.S. Al An’aam : 52).

Dimana tempat jaganya?

Dia akan menjawab: Firman Allah yang artinya :

“(Bertasbih) di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimulia kan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. (iaitu) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan

solat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”(Q.S. An Nuur : 36-37)

Pada siapa nasabnya disandarkan?

Dia akan menjawab: “Bapanya adalah Islam, tidak ada bapa selainnya.” Apa makanan dan minumannya?

Dia akan menjawab: “Hidup di bawah pohon sampai bertemu Rabb-nya” Dan sungguh dia telah ditanya oleh sebagian imam mengenai “sunnah”.

Maka beliau (Ibnu Qayyim) menjawab: “sesungguhnya ahlussunnah tidak menyandarkan kepada nama, kecuali nama sunnah.”

Sebaliknya, golongan hizbi adalah golongan yang menetapkan dan terikat dengan peraturan resmi dari amalan “kebajikan resmi” dan istilah-istilah yang dihiasi sehingga terlihat “kebajikan resmi” itu adalah satu-satunya amal yang sesuai dengan sunnah. Tetapi pada hakikatnya mereka adalah golongan yang jauh dari bimbingan sunnah Rasulullah s.a.w. Apabila disebutkan kepada mereka perkara yang berkaitan dengan al wala’ fillah (pemberian ketaatan kerana Allah), permusuhan yang disebabkan atas pemberian al wala’ fillah, amar ma’ruf nahi mungkar, mereka akan mengatakan dan menuduh bahawa yang demikian adalah perkara yang berlebihan dan akan mengakibatkan kerosakan dan  mudarat.

Apabila mereka melihat di antara sesamanya (anggotanya) terdapat orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) hal-hal tersebut, mereka akan mengeluarkannya dan mencari pengganti yang sesuai dengan peraturan mereka.

Saya tidak mengetahui bila mereka memahami bahawa sesungguhnya lingkaran Islam itu paling luas, persaudaraan di atas dasar keimanan itu yang paling penting, dan jalan yang ditempuh oleh generasi salaf itu yang paling alim, paling hakim, dan paling selamat. Sesungguhnya seluruh golongan hizbi dalam keadaan berbangga dengan kelompok dan golongannya masing-masing. Sungguh mereka telah menyandarkan qudwah-nya (suri tauladan) kepada selain Rasulullah s.aw. menyeru ke jalan yang lain dari jalan beliau, memberikan al wala’ wal bara’ kerana sebab selain beliau s.a.w. Mereka telah menulis perkataan yang tidak bersumber dari alqur’an dan assunnah dan menyandarkan diri kepadanya.

Apabila dibuka hijab yang menutupi mereka (golongan orang-orang hizbi) akan ditemukan bahawa mereka adalah golongan yang mentaati kebakhilan, mengikuti hawa nafsu, dan mengagungkan dunia atau kemewahan; mereka menyatakan dirinya di atas agama Islam dengan dasar hawa nafsunya. Dan Islam bertentangan dengan apa yang mereka sandarkan padanya), mereka merasa takjub dengan akal pemikirannya.

Oleh sebab itulah Islam yang hakiki sangat asing dan orang-orang yang mengamalkannya sangat asing sekali keadaannya di antara manusia.

Bagaimana tidak mungkin mereka sebagai orang-orang yang sangat asing dil kalangan manusia?! Mereka adalah satu kelompok yang sangat sedikit pengikutnya diantara 72 golongan (sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah s.a.w) yang masing-masing mempunyai pengikut, pemimpin, bendera, dan wilayah yang mereka tidak berdiri dan

berjalan kecuali menyimpang dari jalan yang telah dibimbing oleh Rasulullah s.a.w. Apabila satu kelompok tersebut mengamalkan salah satu hukum Islam yang hakiki, yang telah dibimbing oleh Rasulullah s.a.w maka hal tersebut menjadi sesuatu yang paling bertentangan dengan hawa nafsu, kenikmatan, syubhat, dan syahwat dari 72 golongan tersebut. Kerana syubhat dan syahwat merupakan cita-cita akhir dari kehendak dan maksud mereka (72 golongan).

Satu kelompok tersebut adalah sebagai orang-orang yang paling asing di antara orang- orang yang menjadikan kebakhilan sebagai perkara yang dita’ati, hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang diagungkan.

Pahala yang sangat besar ini [sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah s.a.w di atas diberikan kepada mereka kerana dia adalah sangat asing di antara manusia, dan berpegang teguhnya kepada sunnah Rasulullah s.a.w di antara kegelapan hawa nafsu dan pemikiran manusia.

Apabila seorang mukmin yang telah diberikan rezeki pemahaman dalam agamanya, kefakihan dalam sunnah Rasul-Nya, pemahaman dalam kitab-Nya, hendak berjalan dan mengamalkan bimbingan Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan dia melihat manusia dihiasi dengan hawa nafsu, bid’ah, kesesatan, dan penyimpangan dari shirothol mustaqim yang telah ditempuh oleh Rasulullah s.aw maka orang mukmin tersebut telah mempersiapkan dirinya menjadi tempat celaan, fitnah, caci makian, dan hinaan dari orang-orang yang jahil dan ahli bidaah. Demikan juga penggembosan dan peringatan kepada manusia untuk menjauhinya. Sebagaimana keadaan salaf (pendahulu) mereka, iaitu Rasulullah s.a.w sebagai imamnya orang-orang yang beriman dan pengikut-pengikutnya dari perlakuan orang-orang kafir pada waktu itu.

Apabila orang-orang yang jahil dan ahli bidaah diseru untuk kembali ke shirothol mustaqim, dengan segala penghinaan yang ada pada mereka, mereka tetap berbangga di atas kesesatannya.

Maka seseorang yang tetap di atas Islam yang hakiki (satu kelompok yang telah di khabarkan oleh Rasulullah s.a.w ), dia berada dalam keadaan:

  • Asing dalam agamanya, kerana kerosakan agama kaum muslimin.
  • Asing di dalam berpegang teguh di atas sunnah, kerana berpegang teguhnya kaum muslimin dengan bid’ah-bid’ah.
  • Asing dalam akidahnya (keyakinannya), kerana rosaknya akidah kaum muslimin.
  • Asing dalam solatnya, kerana buruk dan rosaknya solat kaum muslimin.
  • Asing dalam manhajnya (jalannya), kerana kesesatan dan kerosakan jalan yang ditempuh oleh kaum muslimin.

-Asing dalam penyandarannya, kerana bertentangan dengan penyandaran kaum muslimin.

-Asing dalam muamalahnya (hubungannya) dengan kaum muslimin, kerana kaum muslimin bermuamalah di atas hawa nafsu mereka.

Kesimpulannya : Dia sebagai seorang yang asing dalam seluruh perkara dunia dan akhiratnya, dia tidak menemukan kaum muslimin yang membantu dan memberikan pertolongan kepadanya. Dia menjadi orang yang:

  • „Alim diantara orang-orang yang jahil,
  • Pembawa sunnah diantara orang-orang ahlul bida’,
  • Da’i yang menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya diantara da’i-da’i yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah-bid’ah,
  • Memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf (baik) dan melarang dari perbuatan mungkar di kalangan kaum muslimin yang menganggap perkara yang ma’ruf adalah mungkar dan perkara yang mungkar adalah ma’ruf.

(Madarijus Salikin: Ibnu Qoyyim Al Jauziyah; Juz III/198-200)

Mereka adalah kelompok pembeda antara al haq dan al bathil yang berada di atas dasar al qur’an dan as sunnah baik dari sisi akidah, manhaj, mahupun amal.

Kejelasan seorang mu‟min, baik da‟i maupun mad‟u (kaum muslimin yang diseru) berada di atas dasar al haq merupakan perkara yang dharuri (asas), kerana kebathilan banyak dihiasi dan ditampilkan dalam bentuk atau pakaian iman. Khususnya golongan orang-orang hizbi dan peribadi-peribadi yang dahulunya mengetahui dan memahami tentang iman kemudian menyimpang dan menyelisihinya. Kerana mereka berkeyakinan bahawa setelah penyimpangannya tersebut, pemikirannya tetap di atas petunjuk (kebenaran). Apabila seorang da’i demikian keadaannya, maka dia akan menimbulkan kerosakan terhadap Islam yang hakiki.

Seorang muslim yang tetap dan kokoh dalam menjalani agamanya akan senantiasa adil dalam muamalahnya. Tidak bersifat lemah lembut kepada pendusta-pendusta dari golongan Yahudi, Nashara, dan yang lainnya, menempatkan lemah lembut dan lawannya sesuai dengan bimbingan Allah dan Rasul-Nya; paling baik muamalahnya kepada keluarga, isteri dan anak-anaknya; paling tinggi pemeliharaannya kepada sesuatu yang mudah, sulit, dan perkara yang berkaitan dengan kabar gembira. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):

“Maka janganlah kalian mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kalian bersikap lunak (lemah lembut) lalu mereka bersikap lunak (pula kepada kalian)”. (Q.S. Al Qalam :8-9)

“Dan orang-orang yang mengikuti syahawatnya bermaksud supaya kalian berpaling sejauh- jauhnya (dari kebenaran)”. (Q.S. An Nisaa’ : 27)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan redha kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (Q.S. Al Baqoroh : 120)

Perhatikanlah sikap yang haq dalam melepaskan diri dari kesyirikan, dan orang-orang yang menjalankannya di dalam al qur’an (yang artinya):

”Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan beribadah kepada apa yang kalian ibadahi, dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku ibadati, dan aku tidak pernah beribadat kepada apa yang kalian ibadati, dan kalian tidak pernah pula menjadi penyembah Rabb yang aku ibadati. Untuk kalianlah agama kalian dan untukkulah agamaku”. (Q.S. Al Kaafirun : 1-6)

Dan perhatikanlah permisalan yang dicontohkan dengan sangat jelas oleh Rasulullah s.a.w kepada para sahabatnya r.a. : {“Kami duduk disisi Rasulullah s.a.w, maka beliau membuat satu garis lurus di depannya demikian, dan berkata: ‘Ini adalan jalan Allah Azza wa Jalla’. Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kiri garis lurus tersebut, dan berkata: ‘Ini adalah jalan-jalan syaithan’. Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis lurus yang ada di tengah-tengah dan beliau membaca ayat yang mulia ini (yang ertinya):

“Dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan (yang lain), kerana jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertaqwa”.(QS. Al An’am:153)}. {Hadis Shahih dari jalan sahabat Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Abbas r.a. Lihat takhrijnya dalam Kitab Kami : Al Junnahfi Takhrijis Sunnah, Hal 5-8).

Ketahuilah saudara-saudara seiman, sesungguhnya sifat tetap istiqomah dalam memelihara Islam dan terus menerus di atas manhaj Al Haq adalah kenikmatan yang sangat besar. Dia adalah wali Allah dan hamba pilihan-Nya yang senantiasa mendapat kecintaan dari-Nya. Dengan sifat itulah hamba-hamba Allah akan teruji. Allah ta‟ala berfirman, berbicara kepada hambanya Muhammad s.a.w (yang mafhumnya):

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir  condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, kemudian kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.” (Q.S. Al Isra’ :74-75)

Allah telah memerintahkan kepada malaikat untuk menetapkan ahlul iman (orang-orang yang beriman) dengan firman-Nya (yang mafhumnya):

“(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang beriman”. (Q.S Al Anfaal

:12)

Allah telah mensyariatkan prinsip-prinsip, yang barangsiapa yang berjalan di atasnya Dia akan memberikan terus menerus sifat keteguhan dan nikmat terus menerus untuk mencintai sifat keteguhan tersebut.

Prinsip-prinsip tersebut adalah:

  1. Menolong agama Allah.

Allah ta‟ala berfirman (yang mafhumnya):

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kamu dan meneguhkan kedudukan-kedudukan kamu. (Q.S. Muhammad : 7)

  • Dengan perkataan yang teguh dan benar. Allah ta‟ala berfirman (yang mafhumnya): “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, (Q.S. Ibrahim: 27)
  • Infaq di jalan Allah.

Allah yang Maha Tinggi dan Terpuji berfirman (yang artinya): “Dan perumpamaan orang- orang yang menginfaqkan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat, Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian perbuat.” (Q.S. Al Baqarah : 265)

  • Berdoa.

Allah ta‟ala berfirman (yang mafhumnya):

“Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tenteranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (Q.S. Al Baqarah : 250)

(Dan firman Allah ta‟ala yang mafhumnya ) : “Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada) musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan- tindakan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. Kerana itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(Q.S.Ali Imran :146-148)

  • Menjalankan perkara-perkara yang diperintahkan-Nya dan menjauhi perkara yang dilarang.

Setiap hamba yang benar perkataannya dan baik (hasan) amalnya maka dia adalah hamba yang paling tetap keteguhan dan keistiqomahannya. Allah ta‟ala berfirman (yang mafhumnya):

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari dari kampungmu, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman mereka, dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang- orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman sebaik- baiknya. Yang demikian itu adalah kurnian dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siaplah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok,atau majulah bersama-sama!”

(Q.S. An Nisaa’: 66-71)

  • Tadabbur Al Quranul Kariim.

Ketahuilah wahai hamba muslim, sesungguhnya hukum ketetapan dan asal tentang sifat keteguhan dan keistiqomahan bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya s.a.w.

Allah ta‟ala berfirman (yang artinya):

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan haq, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.(Q.S.An Nahl :102)

  • Menjadikan orang-orang yang soleh sebagai qudwah.

Allah ta‟ala berfirman(yang artinya) :

Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Alloh untuk (mengadzab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipat

gandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat(nya).” (Q.S.Huud : 20)

Ini semua adalah sifat yang telah diwahyukan dan ditanamkan oleh Rabbul’alamin di atas kesempuaan janji ma’iyyah dan pengawasan dari-Nya yang menunjukan bahwa Thoifah Al Manshuroh, mereka tidak mampu diatur kedudukannya dan dicabut atau dirubah akar pangkalnya oleh musuh-musuh Allah meskipun dalam keadaan musuh-musuh Allah itu bersatu. Ath Thoifah Al Manshuroh mereka adalah orang-orang yang dipermisalkan oleh Allah dalam ayat Al Quran (artinya ):

“Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat permisalan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Alloh membuat permisalan-permisalan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Q.S. Ibrahim: 24- 25)

Thoifah Manshuroh mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya. Oleh sebab itulah mereka dalam keadaan tetap jiwanya dalam memberantas Ahlul Bida’ dan Ahlul Ahwa’, menyumbat dengan azab yang pedih kepada thaghut-thaghut yang mengganti nikmat Allah dengan kekufuran dan menghalalkan masyarakatnya dengan neraka jahanam. Kerana sesungguhnya Thoifah Al Manshuroh mereka menyandarkan dirinya di atas Manhaj (jalan/prinsip) Allah yang kekal.

Mereka dalam keadaan tetap zahir di muka bumi meskipun orang-orang musyrik membenci dan tidak menghendakinya.

Allah berfirman (yang artinya):

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Q.S. Ash Shaff: 8).

(Disaring dari terjemahan Oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid Dari Kitab AlQabidhuna ‘ala Al Jamri- tajuk asal: Orang-orang yang menggengam Bara Api)

Rujukan : Buletin Al Atsray Edisi 12 Sumber: www.darussalaf.or.id

SEBAB-SEBAB KEHANCURAN UMAT

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Kita akan membicarakan tentang mengapa Allah s.w.t. menghancurkan penduduk sesebuah negeri dan bahkan sesebuah umat. Mengapa mereka dihancurkan? Apakah Allah s.w.t. berbuat zalim kepada mereka? Tidak sama sekali, bahkan itulah balasan kezaliman yang mereka lakukan. Allah s.w.t. befirman, maksudnya, “Dan kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (Surah Huud, Ayat 101)

Berikut adalah di antara sebab-sebab mengapa sebuah negeri atau umat dihancurkan. Jika di suatu tempat telah jelas sebab-sebab ini maka mereka sedang menunggu kebinasaan dan kehancuran dari Allah s.w.t.


1. Kezaliman

Kezaliman merupakan antara sebab paling utama mengapa Allah s.w.t. menghancurkan sebuah negeri. Allah s.w.t. berfirman, maksudnya,

“Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. (Surah Huud, Ayat 102)

Amat banyak kezaliman yang terjadi di suatu negeri atau kampung, kezaliman kepada Allah s.w.t., dan kezaliman terhadap sesama manusia. Banyak kezaliman yang terjadi di suatu negara, baik terhadap orang-orang bawahan, para pegawai, buruh dan warga negara yang tidak mampu mendapatkan sebahagian hak-haknya, apa lagi keseluruhan haknya. Dan di antara kezaliman yang sangat besar adalah kezaliman terhadap orang-orang mukmin, muwahidin, kepada para da’i yang menyeru ke jalan Allah, kepada para wali Allah.

Allah s.w.t. berfirman, maksudnya, “Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka”. (Surah al-Kahfi, Ayat 59)


2.Hidup Bermegah-megah Dan Bermewah-mewah

Pada masa ini kita lihat ramai orang berpakaian mewah, tinggal di istana-istana dan gedung megah, naik kenderaan mewah, dengan perabut rumah yang serba mewah yang dulunya tidak mampu dibayangkan. Sedangkan, berapa banyak kemewahan yang menyeret manusia ke dalam dosa, maksiat dan kefasikan. Sehingga orang menjadi lupa kepada agama Allah s.w.t. dan perintah-Nya, hanya lantaran tinggal di rumah mewah, naik kenderaan mewah. Tidak suka dan tidak mahu menerima nasihat jika ada orang memberi nasihat.

Allah s.w.t. berfirman, maksudnya,

“Dan apabila sampai tempoh Kami hendak membinasakan penduduk sesebuah negeri, Kami perintahkan (lebih dahulu) orang-orang yang melampau dengan kemewahan di antara mereka (supaya taat), lalu mereka menderhaka dan melakukan maksiat padanya; maka berhaklah negeri itu dibinasakan, lalu kami menghancurkannya sehancur-hancurnya”. (Surah Al Israa’, Ayat 16)


3. Kufur Nikmat

Sesetengah manusia ada yang jika diberikan nikmat oleh Allah s.w.t. tidak mahu bersyukur, Allah s.w.t. memberi nikmat namun dia melupakan hak-hak Allah s.w.t. yang ada dalam nikmat tersebut. Allah s.w.t. berfirman, ertinya, Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; kerana itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (Surah An-Nahl, Ayat 112)

Kelaparan dan ketakutan adalah dua hal yang selalu berdampingan, manusia jika kufur nikmat lalu Allah s.w.t. menimpakan kepada mereka kelaparan dan mereka tidak mahu kembali kepada Allah s.w.t. maka Dia akan menimpakan ketakutan. Demikian juga jika mereka sudah ditimpa ketakutan, hilangnya rasa aman dan ketenangan namun tetap tidak mahu kembali kepada Allah s.w.t. maka Dia timpakan kepada mereka kelaparan.


4. Ramai Orang Munafik

Salah satu sebab hancurnya umat adalah kerana ramainya orang munafik yang memegang urusan kaum muslimin. Orang munafik adalah orang yang menzahirkan Islam namun memendamkan kekufuran, memerangi wali-wali Allah, para da’i di jalan Allah, para ulama’ dan orang-orang yang istiqamah menjalankan agama. Allah s.w.t. berfirman, maksudnya,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat bencana dan kerosakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang hanya membuat kebaikan”. (Surah Al-Baqarah, Ayat 11)

Mereka mengaku sedang melakukan kebaikan, sebahagian dari mereka berkata sebagaimana yang dikatakan Fir’aun kepada pengikutnya, dalam firman Allah, ertinya, “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, kerana sesungguhnya aku khuatir ia akan menukar agama-agamamu atau menimbulkan kerosakan di muka bumi”. (Surah Ghaafir, Ayat 26)


5. “Berwala’ ” (taat setia) Kepada Kaum Kufar

Memberikan “wala’ “ (taat setia) kepada orang kafir dan tidak bersikap setia kepada orang mukmin masih banyak berlaku dalam masyarakat. Mereka setia kepada musuh-musuh Allah dan bangga dapat membantu serta menolong mereka. Allah s.w.t. berfirman,

“Adapun orang-orang yang kafir, sebahagian mereka pelindung bagi sebahagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerosakan yang besar”. (Surah Al-Anfal, Ayat 173)

Maksudnya jika orang mukmin tidak berwala’ dengan orang mukmin, tidak berwala’ dengan penyeru penyeru kebaikan, tidak berwala’ dengan ahli ilmu dan ahli taqwa, maka itu akan menyebabkan fitnah di muka bumi dan kerosakan yang besar.


6. Meninggalkan Amar Ma’ruf Dan Nahi Munkar

Sesungguhnya diantara sebab hancurnya sesuatu umat adalah kerana meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Allah s.w.t. telah berfirman, maksudnya, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahawa Allah amat keras siksaan-Nya”. (Surah al-Anfal, Ayat 25)

Hal ini sebagaimana digambarkan dalam hadith tentang “safinah” (sampan), yakni jika ada seseorang yang ingin mengambil air dengan cara menebuk sampan di bahagian bawah sampan tersebut, lalu penumpang yang lain tidak mencegahnya, maka seluruh penumpang sampan akan tenggelam, bukan hanya orang yang menebuk sampan itu sahaj. Memang kadang-kala banyak alasan untuk meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Misalnya, “Nanti saya tidak hilang punca pendapatan; saya khuatir terhadap nasib keluarga dan rumah; saya malu untuk bercakap; ini urusan ulul amri (penguasa), ini dan itu”.


7. Berleluasanya Riba

Jika riba sudah bermaharajalela di suatu negeri maka ketahuilah – wahai sekalian hamba Allah – ianya sedang menunggu peperangan dari Allah s.w.t. Azab dari Allah s.w.t. mungkin berupa krisis, kelaparan, hutang, dikuasai musuh, bencana dan lain-lain. Allah s.w.t. berfirman, ertinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahawa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi mu”. (Surah al-Baqarah, Ayat 278-279)


8. Merobohkan Masjid

Diantara sebab hancurnya sebuah negeri adalah jika masjid-masjid dirobohkan. Merobohkan masjid sebagaimana dikatakan Imam asy-Syaukani ada dua macam:

1. “Takhribul hissi”, yakni merobohkan masjid secara fizikal.

2. “Takhribul ma’nawi”, yakni menyia-nyiakan masjid, tidak ada kelas pengajian, ta’lim, muhadharah, sentiasa dikunci, orang dilarang masuk dan lain-lain. Allah s.w.t. berfirman, maksudnya,

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah).” (Surah al-Baqarah, Ayat 114)

9. Meninggalkan Jihad

Betapa tidak, meninggalkan “jihad fi sabilillah” bermakna membiarkan kerosakan di muka bumi tanpa ingin mencegahnya, tidak mau menolong agama Allah s.w.t. dan al-Haq. Maka jelas sekali jika tidak ada jihad, kerosakan dan keburukan akan terus melata. Lihatlah bagaimana akibat meninggalkan jihad, sebagaimana dalam sabda Nabi s.a.w, “Jika kalian asyik berjual beli dengan ‘inah (satu jenis riba), mengikuti ekor-ekor lembu (bertani dan berternak) lalu meninggalkan jihad fi sabilillah maka Allah akan menguasakan kepadamu kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kamu kembali kepada agama kamu”. (Hadith riwayat Abu Daud)


10. Tersebarnya Perbuatan Keji

Bentuk-bentuk perbuatan keji amatlah banyak, diantara yang disebutkan dalam hadith adalah “khabats” (perzinaan), dan ini yang amat mengerikan, juga minuman keras dan lain-lain kemungkaran-kemungkaran. Dalam sebuah hadith Nabi s.a.w telah meyebutkan beberapa kemungkaran beserta akibatnya, di antaranya adalah:

1. Tidaklah tersebar perzinaan kecuali Allah akan menurunkan ta’un dan penyakit aneh yang tidak pernah ada di masa lalu.

2. Tidaklah manusia mengurangi timbangan dan takaran (termasuk riba, menipu dalam jual beli dll) kecuali Allah akan menimpakan kelaparan, kekurangan makanan dan pemerintah yang buruk (zalim).

3. Tidaklah manusia menahan zakatnya kecuali Allah akan menahan turunnya air hujan dari langit, kalau tidak kerana binatang ternak maka Allah tidak akan menurunkannya.

4. Tidaklah mereka mungkir janji dengan Allah dan Rasul kecuali Allah akan menguasakan mereka kepada musuh. 

Saringan oleh Kumpulan Web Darulkautsar dari  www.alsofwah.or.id dari Sumber asal: Naskah Khutbah Jum’at “Asbab Hilak al-Umam”, Syaikh Nabil al-’Awadhi.

KEMISKINANKAH YANG KITA TAKUTKAN?

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

VIDEO IRINGAN – [Durasi – 4m 31s] – Sahih al-Bukhari : Kitab Melembutkan Hati– Bab Orang Yang Memperbayakkan Harta Itulah Orang Yang Paling Kurang

Dari Pengarang Buletin Da’wah Al Wala Wal Bara’, Bandung

Kebanyakan manusia takut terjatuh ke dalam kemiskinan. Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk menghindarinya. Mereka begitu sedih dan berdukacita ketika mengalami kekurangan harta. Bahkan sehingga ada di antara mereka yang sanggup menukar agamanya hanya untuk mendapatkan sedikit harta benda duniawi. Ada di antara mereka menemui dukun, tok-tok bomoh dan yang seumpamanya untuk meminta tangkal, jampi-jampi dan seumpamanya. Atau memelihara dan meminta bantuan makhluk halus (jin) dalam usaha untuk mendapat kekayaan. Mereka telah menjual aqidah dan agamanya untuk kesenangan duniawi yang rendah dan sementara. Nas`alullaahas salaamah wal ‘aafiyah.

Benarkah kemiskinan yang perlu kita takutkan? Benarkah kemiskinan yang dikhuatirkan oleh Rasulullah s.a.w ke atas ummatnya?

عَنْ عَمْرو بْنِ عَوْفٍ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ إِلَى الْبَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا، فَقَدِمَ بِمَالٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ، فَسَمِعَتِ الأَنْصَارُ بِقُدُوْمِ أَبِي عُبَيْدَةَ، فَوَافَوْا صَلاَةَ الْفَجْرِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ، اِنْصَرَفَ، فَتَعَرَّضُوْا لَهُ، فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ حِيْنَ رَآهُمْ، ثُمَّ قَالَ: ((أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدِمَ بِشَيْءٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ)) فَقَالُوْا: أَجَل يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَقَالَ: ((أَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوْا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ((

Dari ‘Amr bin ‘Auf Al-Anshari r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w mengutus Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah r.a. ke negeri Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya (kerana kebanyakan mereka adalah Majusi -pent). Kemudiannya dia kembali dari Bahrain dengan membawa harta. Orang-orang Anshar mendengar berita kepulangan Abu ‘Ubaidah lalu mereka bersegera menuju masjid untuk melaksanakan shalat shubuh bersama Rasulullah s.a.w. Ketika Rasulullah s.a.w selesai shalat beliau pun berpaling menghadap ke arah mereka. Jelas kepada Rasulullah mereka sangat inginkan harta yang dibawa Abu ‘Ubaidah. Maka Rasulullah s.a.w pun tersenyum ketika melihat mereka. Kemudian Baginda s.a.w bersabda, “Aku menjangka kamu telah mendengar bahawa Abu ‘Ubaidah telah datang dengan membawa sesuatu (harta) dari Bahrain”. Maka mereka menjawab, “Benar, Rasulullah”. Lalu Baginda s.a.w bersabda, “Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang akan menyenangkan kamu. Maka demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khuatirkan atas kamu. Akan tetapi aku khuatir akan dibentangkan dunia di hadapan kamu sebagaimana telah dibentangkan ke atas orang-orang sebelum kamu. Lalu kamupun berlumba-lumba padanya sebagaimana mereka berlumba-lumba padanya. Kemudian dunia itu akan menghancurkan kamu sebagaimana telah menghancurkan mereka”. (Sahih Al-Bukhari hadith no. 3158 dan Sahih Muslim hadith no. 2961)

Kemudian Baginda s.a.w bersabda, “Bergembiralah dan harapkanlah apa-apa yang akan menyenangkan kamu. Maka demi Allah! Bukan kemiskinan yang aku khuatirkan atas kamu”.

Ini bermakna bukan kemiskinan yang dibimbangi oleh Nabi s.a.w terhadap kita. Bahkan sebaliknya kadang-kadang kemiskinan boleh menjadi kebaikan bagi seseorang ketika dia bersabar dan tetap taat kepada Allah dalam kemiskinannya tersebut.

Sabda Nabi s.a.w. , “Bukan kemiskinan yang aku khuatirkan atas kalian”, yakni aku tidak bimbang kalian ditimpa kemiskinan kerana sesungguhnya orang yang miskin secara umumnya lebih dekat kepada kebenaran daripada orang yang kaya.

Perhatikanlah keadaan para rasul! Siapakah yang mendustakan mereka? Yang mendustakan mereka adalah para pembesar kaumnya, orang-orang yang paling jahat dan orang-orang kaya. Dan sebaliknya, kebanyakan yang mengikuti mereka adalah orang-orang miskin. Sehingga kebanyakan yang mengikuti Nabi s.a.w pun adalah orang-orang miskin.

Jangan Takut Dengan Kemiskinan!

Maka kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu dibimbangi. Jangan sampai kita takut menjadi miskin atau khuatir tidak ada apa untuk dimakan. Jangan sampai terlintas di dalam hati kita, “Apa yang ada untuk kita makan esok?”. Jangan gusar! Yang penting kita berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal, berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Kerana sesungguhnya Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu yang melata pun (yakni manusia dan haiwan) di muka bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya”. (Surah Huud, Ayat 6)

Bahkan sesuatu yang mesti kita bimbangkan ialah ketika dibentangkan dunia kepada kita. Yakni ketika kita diuji dengan banyaknya harta. Sebagaimana sabda Nabi s.a.w, “Akan tetapi aku khuatir akan dibentangkan dunia di hadapan kamu sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kamu Lalu kamu pun berlumba-lumba padanya sebagaimana mereka berlumba-lumba padanya. Kemudian dunia itu akan menghancurkan kamu sebagaimana telah menghancurkan mereka”.

“Menghancurkan kamu” bermaksud menghilangkan agama kamu, yakni, disebabkan dunia, kamu menjadi lalai dan meninggalkan ketaatan kepada Allah.

Bahayanya Dunia Bagi Seorang Muslim

Dunia sangat berbahaya bagi seorang muslim. Inilah hakikatnya. Lihatlah keadaan orang-orang di sekitar kita. Ketika mereka dalam kemiskinan, mereka lebih bertaqwa kepada Allah dan lebih khusyu’. Rajin shalat berjamaah di masjid, menghadiri majlis ilmu dan lain-lain. Namun, ketika banyak hartanya, mereka semakin lalai dan semakin berpaling dari jalan Allah. Dan muncullah sikap melampaui batas dari mereka.

Akhirnya, sekarang manusia menjadi orang-orang yang selalu merindukan keindahan dunia dan perhiasannya seperti kereta mewah, rumah besar, tempat tidur empuk, pakaian berjenama dan lain-lain. Mereka saling berbangga antara satu sama lain. Dan mereka meninggalkan amalan-amalan yang akan memberikan manafaat kepada mereka di akhirat kelak.

Perhatikanlah, majalah-majalah, akhbar-akbar dan lain-lain media kebanyakannya tidak membicarakan apa-apa kecuali tentang kemegahan dunia dan apa-apa yang berkaitan dengannya. Dan mereka berpaling dari akhirat, sehingga rosaklah manusia kecuali orang-orang yang Allah selamatkan.

Kesimpulannya, bahawasanya ketika dunia dibukakan – kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kami dan anda dari kejelekannya – maka dunia itu akan membawa kejelekan dan akan menjadikan manusia melampaui batas.

كَلاَّ إِنَّ الإِنْسَانَ لَيَطْغَى. أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, kerana dia melihat dirinya serba cukup”. (Surah Al-‘Alaq, Ayat 6-7)

Dan sungguh Fir’aun telah berkata kepada kaumnya,

يَاقَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلاَ تُبْصِرُونَ

“Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat (nya)?” (Surah Az-Zukhruf, Ayat 51)

Fir’aun berbangga dengan dunia. Oleh kerana itu, dunia adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Hadith di atas mirip dengan hadith berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: جَلَسَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ، فَقَالَ: إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتِهَا

Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. dia berkata, “Rasulullah s.a.w duduk di atas mimbar dan kamipun duduk di sekitar Baginda. Lalu Baginda s.a.w bersabda, “Sesungguhnya di antara yang paling aku takutkan atas kamu sepeninggalanku adalah ketika dibukakan atas kamu keindahan dunia dan perhiasannya”. (Sahih Al-Bukhari hadith no.1465 dan Sahih Muslim hadith no.1052)

Dunia Itu Manis Dan Hijau

Rasulullah s.a.w telah menjelaskan keadaan dunia sekaligus memperingatkan ummatnya dari fitnahnya.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah s.w.t. menjadikan kamu pemimpinnya. Lalu Dia akan melihat bagaimana amalan kamu. Maka takutlah kamu dari fitnah dunia dan takutlah kalian dari fitnah wanita”. (Sahih Muslim hadith no. 2742)

Sabda Baginda s.a.w, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau.” Yakni manis rasanya dan hijau pemandangannya, memikat dan menggoda. Kerana sesuatu itu apabila keadaannya manis dan sedap dipandang mata, maka dia akan menggoda manusia. Demikian juga dunia, dia manis dan hijau sehingga akan menggoda manusia.

Akan tetapi Baginda s.a.w juga menyatakan, “Dan sesungguhnya Allah s.w.t menjadikan kamu pemimpinnya”. Yakni Dia menjadikan kamu pemimpin-pemimpin padanya, sebahagian kamu menggantikan sebahagian yang lain dan sebahagian kamu mewarisi sebahagian yang lain.

“Lalu Dia akan melihat bagaimana amalan kamu” Apakah kamu mengutamakan dunia atau akhirat? Kerana inilah Baginda s.a.w mengingatkan, “Maka takutlah kamu dari fitnah dunia dan takutlah kamu dari fitnah wanita”.

Harta Dan Kekayaan Yang Bermanfaat

Akan tetapi apabila Allah memberikan kekayaan kepada seseorang, lalu kekayaan tersebut membantunya untuk taat kepada Allah, dia infakkan hartanya di jalan kebenaran dan di jalan Allah, maka jadilah dunia itu sebagai kebaikan.

Kita semua tidak mampu untuk lepas dari dunia secara keseluruhan. Kita perlukan tempat tinggal atau rumah, kenderaan, pakaian dan sebagainya. Benda-benda ini jika kita gunakan untuk membantu ke arah ketaatan kepada Allah nescaya kita mendapat pahala. Sebagai contohnya, jika kita gunakan kenderaan untuk menghadiri majlis ilmu atau melakukan kegiatan yang bermanfaat. Malah kita pun boleh mengajak rakan-rakan ikut bersama kita menghadiri majlis ilmu tersebut. Dengan menggunakan kenderaan sendiri juga kita boleh mengelak dari maksiat seperti “ikhtilath” (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram) dan lain-lain

Akan tetapi jangan sampai kenderaan ataupun harta benda duniawi menjadikan kita bangga dan sombong sehingga merendahkan dan meremehkan orang lain. Jadikan harta tersebut sebagai alat yang membantu kita untuk taat kepada Allah yang dengannya menjadikan kita orang yang bersyukur.

Malah ada sebahagian ulama’ mewajibkan setiap orang untuk memiliki kenderaan sendiri. Dengan kenderaan tersebut seorang muslim akan terhindar dari “ikhtilath” dan lain-lain kemaksiatan. Ingatlah, menghindari maksiat adalah wajib. Di dalam kaedah ushul fiqh disebutkan, “Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu adalah wajib”.

Akan tetapi tentunya hendaklah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Jangan sampai kerana ingin mendapatkan kenderaan, dia bermati-matian mencari harta siang dan malam. Yang berlegar di dalam kepalanya adalah wang, wang dan wang. Sehingga dia lupa untuk berzikir kepada Allah, mempelajari agamanya, menghadiri majlis ilmu, shalat berjamaah dan melakukan lain-lain amal taat.

Ingatlah selalu firman Allah s.w.t,

فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupan kamu”. (Surah At-Taghaabun, Ayat 16)

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Surah Al- Baqarah, Ayat 286)

Oleh kerana itulah, keadaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah dan pada keredhaan-Nya seperti kedudukan orang ‘alim yang telah Allah berikan hikmah dan ilmu kepadanya, yang mengajarkan ilmunya kepada manusia.

Ada perbezaan di antara orang yang rakus dan panjang angan-angan terhadap dunia dan berpaling dari akhirat dengan orang yang Allah berikan kekayaan yang digunakannya untuk mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat dan dia infakkan di jalan Allah.

رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari seksa neraka.” (Surah Al-Baqarah, Ayat 201)

Semoga Allah s.w.t. selalu membimbing kita untuk mengamalkan apa-apa yang dicintai dan diredhai-Nya serta memperbaiki urusan-urusan kita. Aamiin. Wallaahu A’lam.

(Maraaji’: Syarh Riyaadhish Shaalihiin 2/186-189, Maktabah Ash-Shafaa; dan Bahjatun Naazhiriin 1/528, Daar Ibnil Jauziy)

Diadaptasi dari artikel bertajuk “Kemiskinan yang Kalian Takutkan?” dari http://www.darussalaf.or.id dan http://www.fdawj.co.nr

UJIAN AKAN MENINGKATKAN KETAQWAAN

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

OLEH: MADIHAH RUSHAIDHI

Hidup bagaikan ayunan ombak, terkadang di atas, terkadang di bawah. Hari ini senyuman terukir dan kehidupan terasa begitu bermakna, hari esok mungkin ujian menimpa. Berlinanganlah air mata dan kehidupan terasa begitu mencengkam serta mendukacitakan. Begitulah norma kehidupan kita, sentiasa diuji dan teruji.

“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Surah Al-Ankabut, Ayat 2-3)

Di saat kita diuji, bagaimanakah kita menghadapinya? Bercakap secara teori dan berhadapan dengannya secara realiti adalah dua perkara yang jauh berbeza. Di sinilah jatidiri, akhlak dan peribadi memainkan peranan dalam mencorak sikap, serta pandangan kita terhadap ujian yang ditimpakan ke atas diri kita. Keyakinan terhadap janji Allah s.w.t. juga menjadi penentu kepada reaksi seseorang terhadap ujian-ujian ini. Akan cepat melatahkah kita? Akan mula menyalahkan orang lainkah? Atau akan terfikir bahawa ujian ini tidak adil atau tidak baik untuk diri kita?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Surah Al-Baqarah, Ayat 216)

Berdepan dengan ujian bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan ianya amat sukar. Ujian kelihatan seperti satu mudarat, kecelakaan atau sesuatu yang amat dibenci, namun melepasi ujian adalah satu hakikat kejayaan yang sebenar. Melepasi ujian dengan bersabar dan penuh ketaatan serta keyakinan terhadap janji-janji Allah s.w.t. adalah satu ketaatan. Seorang pendakwah Islam yang berasal dari Amerika Syarikat, Dr. Bilal Philip dalam ceramahnya mengajukan satu persoalan yang amat menarik. Apakah yang membuatkan syaitan menjadi kufur setelah Allah s.w.t. memerintahkannya sujud kepada Nabi Adam a.s.? Pelbagai jawapan dilontarkan.

“Kerana sifat angkuh syaitan”.

Jawapannya, tidak. Angkuh tidak menjadikan seseorang itu kufur.

“Kerana dia ingkar dan tidak taat”.

Tidak juga. Berapa ramai Muslim yang ingkar dan tidak taat tetapi tidak jatuh kufur.

Akhirnya, seseorang menjawab dengan jawapan yang dikehendaki: “Kerana dia mempersoalkan perintah Allah s.w.t., serta mendakwa dia lebih baik daripada penciptaan Adam a.s.”

Dr. Bilal Philip selanjutnya menjelaskan, kerana perbuatan syaitan ini seolah-olah mempersoalkan dan menidakkan kekuasaan, serta pengetahuan Allah s.w.t. Yang Maha Berkuasa dan Maha Mengetahui. Maha Suci Allah daripada sebarang kekurangan dan kelemahan. Syaitan gagal dalam ujian ini kerana mempersoalkan sesuatu yang tidak di dalam pengetahuannya, sedangkan malaikat penuh ketaatan dan kepatuhan kepada Allah s.w.t. dalam melaksanakan perintah-Nya:

‘’Mereka (para malaikat) menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”. (Surah Al-Baqarah, Ayat 32)

Maka, malaikat kekal menjadi makhluk yang mulia serta dihormati, sedangkan syaitan menjadi kufur, dilaknat dan tercela selama-lamanya. Kisah kekufuran syaitan ini seharusnya menjadi iktibar buat kita, agar tidak mengikut jejak langkahnya ketika diuji. Tidak menyalahkan ketentuan takdir serta tidak mempersoalkan Yang Maha Mencipta di atas apa-apa aturan yang telah ditentukan buat kita. Bahkan, semestinya, kita meneguhkan keyakinan dan pergantungan kepada Allah s.w.t. kerana di dalam firman-Nya, Allah s.w.t. memberi jaminan bahawa ujian yang ditimpakan ke atas kita, sekali-kali tidak melebihi keupayaan kita untuk menghadapinya:

“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Surah Al-Baqarah, Ayat 286)

 Menghadapi ujian juga seharusnya disandarkan pada asas keimanan yang kukuh, iaitu dengan penuh kesabaran serta penuh usaha dan kesungguhan, dan diakhiri dengan penyerahan secara total kepada ketentuan Allah s.w.t. Kerana fitrah alam ciptaan Allah ini, menuntut satu aturan atau asbab kepada sesuatu natijah atau hasil akhir. Sesuatu perkara tidak akan berubah tanpa usaha-usaha perubahan dilaksanakan ke atasnya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara kebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, (di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)”. (Surah Ali-Imran, Ayat 200)

Apakah perisai atau kekuatan yang dapat dipergunakan bagi memperkukuhkan keimanan serta keyakinan sewaktu menghadapi ujian? Sudah pastilah hubungan yang akrab dengan Rabb yang menciptakan diri serta menentukan ujian ini antara pra-syarat utama. Diajarkan kepada kita daripada Kalam Allah Yang Maha Suci:

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk”. (Surah Al-Baqarah, Ayat 45)

Juga di dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w bersabda:

“Peliharalah Allah, nescaya engkau dapati Allah di hadapanmu. Ingatlah Allah di masa lapang, nescaya Dia mengingatimu di masa sukar”. (Hadith riwayat at-Tirmidzi).

Di dalam syarahnya, Imam an-Nawawi menerangkan, maksud “Peliharalah Allah” adalah memelihara hukum-Nya, hak-Nya, perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bagi hamba-hamba yang memelihara keseluruhan aspek ini, pastilah pemeliharaan Allah ke atasnya juga terlaksana. Iaitu Allah akan memelihara agama dan imannya daripada dinodai sesuatu yang haram dan sentiasa diberikan hidayah agar kembali kepada Allah s.w.t. Inilah semulia-mulia pemeliharaan yang diharap-harapkan dari Allah s.w.t. Sesungguhnya kekuasaan dan rahmat serta kasih sayang Allah s.w.t. terlalu luas, tidak berkurang walau sedikit pun dari kekuasaan-Nya ini andai kita memohon pertolongan dari-Nya, maka pohonkanlah! Selain itu, kita dianjurkan juga untuk mengingati Allah s.w.t. di masa lapang kerana mengingati-Nya di waktu sukar dan diuji kadangkala lebih sukar.

Salman Al-Farisi pernah menyebut: “Apabila seorang lelaki selalu memohon kepada Allah s.w.t. pada waktu senang, kemudian dia memohon kepada Allah s.w.t. di waktu susah, maka berkatalah malaikat: Suara ini sudah terkenal. Maka tolonglah pemilik suara ini. Sebaliknya jika suara itu tidak dikenal kecuali di masa susah, malaikat akan berkata, selama ini suaranya tidak pernah dikenal, maka tak usahlah ditolong akan dia”.

Ujian, jika dilihat dari satu sudut pandang berbeza, juga merupakan sebuah rahmat kerana melalui ujian, seseorang dapat kembali mengalihkan perhatiannya kepada Allah s.w.t. setelah sekian lama berjauhan akibat kesibukannya dengan urusan dunia dan hariannya. Apabila ditimpa ujian, fitrahnya akan memanggilnya untuk kembali akrab kepada Allah s.w.t. Pencipta-Nya dan satu-satunya yang dapat memakbulkan seluruh permintaanya. Fokus serta tumpuannya dapat dipusatkan kepada Allah s.w.t. Maka bertambah khusyuklah dia, serta jadilah dia manusia yang memiliki sifat taqwa. Dan orang-orang bertaqwa, seperti yang disebutkan Allah s.w.t dalam Firman-Nya, adalah orang-orang yang berjaya mencapai kemenangan.

Rujukan:

1) Al-Quran Karim

2) Syarah Hadith 40 – Imam Nawawi

3) Video Talk ‘Dakwah to Atheist/NonMuslim’ – Dr Bilal. Philip (http://www.youtube.com/watch?v=xHSomCYHDdM)

Sumber: http://www.ismaweb.net/v4/ujian-peningkat-ketaqwaan/

 

DUNIA ITU FATAMORGANA

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Banyak sekali ayat ataupun hadith-hadith Rasulullah, yang menyatakan tentang perbandingan antara keutamaan dan kenikmatan kehidupan akhirat dan kehidupan dunia, yang mana akan didapati betapa jauhnya kemuliaan di antara keduanya, bahkan tidak sedikit akan adanya celaan terhadap kehidupan dunia. Akan tetapi celaan tersebut tidaklah ditujukan kepada siang dan malamnya, bumi tempat dunia ini berada, lautan, sungai-sungai, hutan dan lain-ain kerana semua itu adalah nikmat Allah bagi hamba-hamba-Nya, tetapi celaan itu ditujukan kepada tingkah laku anak Adam dan penghuninya terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman: ”Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri di antara kalian dan saling berlumba untuk memperbanyak harta dan anak”. (Surah Al-Hadid, Ayat 20)

Dunia ini hanyalah jalan menuju syurga dan neraka, tempat manusia mengumpulkan perbekalan untuk menuju kehidupan abadi, dan bertemu Allah Ta’ala Pencipta alam semesta, Yang akan menilai dan menerima bekal tersebut, jika baik maka nikmat syurga yang akan ia dapatkan dan jika buruk maka azab yang pedihlah yang akan dirasakan.

Sikap Manusia Terhadap Kehidupan Dunia

Pertama; Orang-orang yang mengingkari adanya negeri pembalasan setelah alam dunia. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman :”Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengan kehidupan itu serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Surah Yunus, Ayat 7)

Kedua; Orang-orang yang meyakini adanya alam pembalasan setelah kematian. Merekalah orang-orang Yang mengikuti para Rasul. Dalam hal ini mereka tergolong kepada tiga kelompok, iaitu:

· “Zhalimun linafsih”, orang yang menzalimi diri sendiri. Bagi mereka dunia adalah segalanya, terbuai oleh keindahannya yang menipu. Mereka redha, murka, setia (berwala’) dan benci (bara’) kerana pengaruh dan motivasi dunia semata-mata. Mereka beriman kepada akhirat secara global tetapi mereka tidak mengerti tujuan hidup di dunia, bahawa tidak lain ia adalah suatu tempat untuk berbekal menuju kehidupan berikutnya.

· Muqtashid, mereka adalah orang-orang yang menikmati dunia dari arah yang dibenarkan, mubah. Mereka melaksanakan seluruh yang wajib, akan tetapi membiarkan dirinya bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Mereka tidak mendapatkan hukuman akan tetapi darjat mereka rendah. Umar bin Khattab berkata: “Seandainya darjat syurgaku tidak dikurangi pasti aku akan menantang kalian dalam hal kehidupan dunia. Tetapi aku mendengar Allah mencela suatu kaum dalam firman-Nya yang artinya :”Kalian sia-siakan rezeki kalian yang baik-baik hanya untuk kehidupan di dunia saja dan kalian bersenang-senang dengannya”. (Surah Al-Ahqaf, Ayat 20)

· “Sabiqun bil khairat bi idznillah”. Mereka adalah orang-orang yang faham tujuan dari dunia dan beramal sesuai dengannya. Mereka mengerti bahawa Allah menempatkan hamba-hamba-Nya di dunia ini untuk diuji, siapa yang paling baik amalnya, yang paling zuhud kapada dunia dan paling cinta kepada akhirat. Firman Allah Ta’ala: ”Dan sesungguhnya Kami jadikan apa saja yang ada di muka bumi ini sebagai hiasan baginya, supaya kami uji siapa di antara mereka yang paling baik amalnya”. (Surah Al-Kahfi, Ayat 7). Golongan yang ketiga ini merasa cukup dengan mengambil dunia sekadar sebagai bekal seorang musafir.

Cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah Ta’ala dan berzikir kepada-Nya, barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya dia termasuk dalam kelompok orang-orang yang rugi. Dan hati, jika telah lalai dari zikrullah, pasti akan dikuasai syaitan dan dipandu sesuai kehendaknya. Syaitan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan padahal ia baru melakukan sedikit saja atau bahkan tidak melakukannya sama sekali.

Bahaya Mencintai Dunia

Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: ”Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan”. Ulama’ yang lain berkata: ”Cinta dunia itu pangkal dari segala kesalahan dan pasti merosakkan agama ditinjau dari berbagai sisi, di antaranya :

Pertama; menyebabkan pengagungan terhadap dunia secara berlebihan, padahal ia di sisi Allah sangatlah remeh, adalah termasuk dosa yang sangat besar mengagungkan sesuatu yang di anggap remeh oleh Allah.

Kedua; Allah telah melaknat, memurkai dan membencinya, kecuali yang ditujukan untuk Allah. Barang siapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai dan dibenci Allah bererti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa dan kemurkaan dari Allah

Ketiga; orang yang cinta dunia akan lebih cenderung menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya, sehinggga ia terjatuh dalam kesalahan, iaitu menjadikan jalan-jalan sebagai tujuan dan berusaha untuk mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Allah Ta’ala berfirman “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (Surah Hud, Ayat 15-16) demikianlah bahawa cinta dunia dapat menghalangi seseorang dari pahala, merosakkan amal, bahkan boleh menjadikannya orang yang pertama kali masuk neraka.

Keempat; mencintai dunia akan menghalangi seorang hamba dari aktiviti yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat, ia akan sibuk dengan apa yang dicintainya. Ada yang disibukkan oleh kecintaannya dari iman dan syariat, dari kewajiban-kewajiban yang seharusnya ia laksanakan, atau dalam waktu yang tidak tepat, atau hanya sekadar pelaksanaan lahiriahnya saja, paling tidak kecintaannya terhadap dunia akan melalaikan hakikat kebahagiaan seorang hamba iaitu kosongnya hati selain untuk mencintai Allah dan diamnya lisan selain berzikir kepadaNya, juga ketaatan hati dan lisan dengan Rabbnya.

Kelima; berlebihan mencintai dunia akan menjadikan harapan utama pelakunya ketika hidup adalah dunia itu sendiri.

Keenam; orang yang berlebihan mencintai dunia adalah manusia dengan azab yang paling berat. Mereka disiksa di tiga negeri; di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat. Di dunia mereka di azab dengan kerja keras untuk mendapatkannya dan persaingan dengan orang lain. Adapun di alam barzakh mereka diazab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan. Di sana tidak sesuatupun yang menggantikan kedudukan kecintaannya kepada dunia, kesedihan, kedukaan, dan kerugian terus-menerus mencabik-cabik ruhnya, seperti halnya cacing dan ulat melakukan hal yang sama kepada jasadnya, demikianlah pecinta dunia akan di azab dikuburnya, dan juga pada hari akhirat nanti iaitu pada hari pertemuan dengan Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman yang ertinya: ”Janganlah engkau ta’jub dengan harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menyiksa mereka dengannya dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir”. (Surah at-Taubah, Ayat 55)

Mentafsirkan ayat diatas sebahagian ulama salaf berkata :”Mereka diazab dengan jerih payah dan kerja keras dalam mengumpulkannya. Nyawa mereka akan melayang kerana cintanya dan mereka menjadi kafir kerana tidak menunaikan hak Allah sehubungan dengan kemegahan dunia itu”.

Ketujuh; orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya dari pada akhirat adalah makhluk yang paling tidak mengerti, bodoh, dungu dan tidak berakal. Kerana mereka lebih mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian daripada kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan abadi dan mendahulukan negeri yang fana dari pada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal itu dengan kenikmatan yang palsu. Manusia yang berakal cerdas (baca : bertaqwa) tentunya tidak akan tertipu dengan hal semacam ini.

Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang, disangka memiliki hakikat yang tetap padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai.

Dunia juga sangat mirip dengan ‘FATAMORGANA’, orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapati sesuatu pun. Justeru yang ia dapati adalah Allah Ta’ala dengan hisab-Nya, dan Allah sangat cepat hisab-Nya.

Maka saudaraku, marilah kita berlumba-lumba dalam berbuat kebaikan, untuk meraih redha Allah Ta’ala, syurga-Nya dan apa-apa yang telah dijanjikan-Nya serta keutamaan-keutamaan di alam akhirat yang kekal abadi, yang mana Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya: ”Dan kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal”(Surah al-A’laa, Ayat 17), jangan sampai kita tertipu oleh tipu daya syaitan yang senantiasa menggoda anak cucu adam agar tergelincir, sehingga terjerumus kepada kesesatan, penyimpangan, memperturutkan segala keinginan hawa nafsu sehingga lupa hak-hak Allah Ta’ala yang harus ditunaikan serta lupa dari kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah terlihat oleh pandangan mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbayangkan dalam benak hati manusia. Itulah kenikmatan yang Allah Ta’ala janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang mendapat rahmat dari-Nya. Wallahu a’lam.

Oleh : Abu Thalhah Andri Abd Halim

Di nukil dari “Tazkiatun-Nufus” (Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qayyim dan Imam al-Gazhali)

Sumber: http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=507

 

JAUHI SIFAT ANGKUH DAN SOMBONG

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Sifat angkuh dan sombong telah banyak membinasakan makhluk Allah s.w.t., bermula dari peristiwa pengusiran Iblis dari syurga kerana, lantaran niat sombongnya, enggan sujud kepada Nabi Adam a.s. tatkala diperintahkan oleh Allah s.w.t. untuk sujud hormat kepadanya.

Demikian juga Allah s.w.t telah menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi disebabkan kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah s.w.t. dan juga kepada kaumnya sendiri.

Allah s.w.t. juga telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tenteranya ke dalam laut kerana kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah s.w.t. dan juga kepada kaumnya sendiri, dan kerana kesombongannya itulah dia lupa diri sehingga dengan keangkuhannya dia menyatakan dirinya adalah tuhan yang mesti disembah dan diagungkan.

Kehancuran kaum Nabi Luth a.s. juga karena kesombongan mereka dengan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Luth a.s. agar mereka meninggalkan kebiasaan buruk mereka iaitu melakukan penyimpangan seksual, yakni lebih suka memilih pasangan hidup sama jenis (homosek); sehingga tanpa disangka-sangka pada suatu pagi, Allah s.w.t. membalikkan bumi tempat tinggal mereka dan tiada seorang pun dari mereka yang dapat menyelamatkan diri dari azab Allah yang datangnya secara tiba-tiba itu.

Dan masih banyak kisah lain yang dapat menyedarkan manusia dari sifat sombong dan angkuh, sekiranya mereka menggunakan hati nurani dan akalnya yang sihat.

Mengapa manusia dilarang bersikap sombong? Sebabnya ialah manusia adalah makhluk yang lemah. Layakkah makhluk yang lemah itu bermegah-megah dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Sayangnya, realiti masakini, kita dapati ramai manusia yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, memandang rendah orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.

Rasulullah s.a.w, telah menjelaskan tentang bahayanya sifat sombong dan angkuh, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud r.a., dari Nabi s.a.w, beliau bersabda,

“Tidak masuk syurga sesiapa yang ada di dalam hatinya sedikit sifat sombong”. Kemudian seseorang berkata: “(Ya Rasulullah) sesungguhnya seseorang itu suka pakaiannya bagus dan kasutnya bagus”, Baginda bersabda: “Sesunguhnya Allah itu indah dan Dia menyukai keindahan, (dan yang dimaksud dengan) kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendah-rendahkan orang lain” (Hadith riwayat Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah memberi komentar tentang hadith ini, “Hadith ini berisi larangan dari sifat sombong iaitu menyombongkan diri kepada manusia, memperlekehkan mereka dan menolak kebenaran”. (Syarah Shahih Muslim 2/269).

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak layak mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong dari menerima kebenaran dari orang lain”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 2/275)

Raghib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain, kesombongan yang paling dahsyat adalah sombong kepada Rabbnya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari` 22/140).

Nash-nash Ilahiyyah banyak sekali mencela orang yang sombong dan angkuh, baik yang terdapat dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah.


1. Orang Yang Sombong Telah Mengabaikan Perintah Allah s.w.t.

Allah s.w.t. berfirman, artinya:

”Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia, dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong; sesungguhnya Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri.” (Surah Luqman, Ayat 18)

Ibnu Abbas r.a, ketika menjelaskan makna firman Allah s.w.t: ”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia”, berkata: “Janganlah kamu sombong dan merendahkan manusia, hingga kamu memalingkan mukamu ketika mereka berbicara kepadamu.” (Tafsir At-Thabari, 21/74)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan Firman Allah s.w.t, ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”, maksudnya: ”Janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, berbuat sesuka hati, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah murka kepadamu”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/417).


2. Orang Yang Sombong Menjadi Penghuni Neraka.

Allah s.w.t. berfirman, mafhumnya:

”(Setelah itu) dikatakan kepada mereka: Masukilah pintu-pintu Neraka Jahannam itu dengan keadaan tinggal kekal kamu di dalamnya; maka seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong takbur ialah Neraka Jahannam”

(Surah Az-Zumar, Ayat 72)

Rasulullah s.a.w bersabda,

“Tidak akan masuk syurga siapa yang ada di dalam hatinya sedikit kesombongan.” (HR. Muslim)

Dalam hadith lain Rasulullah s.a.w bersabda, “Mahukah Aku beritahu kepada kamu tentang penghuni syurga? Para Sahabat menjawab: “Tentu (wahai Rasulullah)”, lalu Baginda berkata: “(Penghuni syurga adalah) orang-orang yang lemah lagi direndahkan oleh orang lain, kalau dia bersumpah (berdoa) kepada Allah nescaya Allah kabulkan doanya. Mahukah Aku beritahu kepada kamu tentang penghuni neraka?” Para Sahabat menjawab: “Tentu (wahai Rasulullah)”, lalu Baginda berkata: “(Penghuni neraka adalah) orang-orang yang keras kepala, berbuat sesuka hati (kasar), lagi sombong”. (Hadith riwayat al-Bukhari & Muslim)

3. Orang Yang Sombong Pintu Hatinya Terkunci Dan Tertutup.

Sebagaimana Firman Allah s.w.t., mafhumnya:

“Demikianlah Allah mengunci mati pintu hati orang yang sombong takabbur, lagi bermaharajalela pencerobohannya”. (Surah Ghaafir, Ayat 35)

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah mengunci mati hati orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah maka demikian juga halnya Allah juga mengunci mati hati orang yang sombong dan berbuat sewenang-wenangnya, yang demikian itu kerana hati merupakan sumber dan pangkal kesombongan, sedangkan anggota tubuh hanya tunduk dan patuh mengikuti hati”. (Fathul Qodir, 4/492).

4. Kesombongan Membawa Kepada Kehinaan Di Dunia Dan Di Akhirat

Orang yang sombong akan mendapat kehinaan di dunia ini berupa kejahilan, sebagai balasan dari perbuatannya. Perhatikanlah firman Allah s.w.t, ertinya: “Aku akan memalingkan (hati) orang-orang yang sombong takabbur di muka bumi dengan tiada alasan yang benar dari (memahami) ayat-ayat-Ku (yang menunjukkan kekuasaan-Ku)”. (Surah Al-‘Araf, Ayat 146)

Maksudnya, iaitu, Aku (Allah) halangi mereka dari memahami hujah-hujah dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang keagungan-Ku, syari’at-Ku, hukum-hukum-Ku pada hati orang-orang yang sombong untuk ta’at kepada-Ku dan sombong kepada manusia tanpa alasan yang benar, sebagaimana mereka sombong tanpa alasan yang benar, maka Allah hinakan mereka dengan kebodohan (kejahilan). (Tafsir Ibnu Katsir 2/228)

Kebodohan adalah sumber segala malapetaka, sehingga Allah sangat mencela orang-orang yang jahil dan orang-orang yang selesa dengan kejahilannya, Allah s.w.t. berfirman, artinya: ”Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi (hukum dan ketetapan) Allah, ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mahu memahami sesuatu pun (dengan akal fikirannya)”. (Surah Al-Anfal, Ayat 22)

Allah s.w.t. menghina orang-orang yang tidak mahu menerima kebenaran dan tidak mahu mengatakan yang haq, sehingga orang tersebut tidak memahami ayat-ayat-Nya yang pada akhirnya menyebabkan dia menjadi seorang yang jahil dan tidak mengerti apa-apa; dan kejahilan itulah bentuk kehinaan bagi orang-orang yang sombong.

Dan orang yang sombong di akhirat dihinakan oleh Allah s.w.t. dengan mengecilkan saiz tubuh mereka sekecil semut dan kehinaan datang kepada mereka dari segenap penjuru, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah s.a.w dalam hadith berikut:

“Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil dengan rupa manusia, dari segala tempat datang kehinaan kepada mereka, mereka digiring ke penjara neraka jahannam yang di sebut Bulas, di bahagian atasnya api yang menyala-nyala dan mereka diberi minuman dari kotoran penghuni neraka”. (Hadith riwayat Tirmizi & Ahmad, dihasankan oleh Syeikh Al-Albani dalam Al-Misykat)

Semoga dengan merenungi nash-nash Ilahiyyah diatas, rahmat Allah akan sentiasa bersama kita dan menjauhkan kita dari sifat angkuh dan sombong.

(Abu Abdillah Dzahabi)


Tulisan ini disadur dari Majalah Al-Furqon Edisi: 5 Tahun V /Zulhijjah 1426 /Januari 2006

Sumber: Disaring dari artikel asal yang disiarkan oleh http://www.alsofwah.or.id/

 

BERSYUKURKAH KITA?

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Syukur merupakan suatu amalan yang utama dan mulia, oleh kerana itu Allah s.w.t memerintahkan kita semua untuk bersyukur kepada-Nya, mengakui segala keutamaan yang telah Dia berikan, sebagaimana dalam firman-Nya, yang ertinya,

“Oleh itu ingatlah kamu kepada-Ku (dengan mematuhi hukum dan undang-undang-Ku), supaya Aku membalas kamu dengan kebaikan dan bersyukurlah kamu kepada-Ku dan janganlah kamu kufur (akan nikmat-Ku)”. (Surah Al-Baqarah, Ayat 152)

Allah s.w.t. juga memberitahu bahawa Dia tidak akan menyiksa mereka yang bersyukur, sebagaimana yang difirmankan-Nya, ertinya,

“Apa gunanya Allah menyeksa kamu sekiranya kamu bersyukur (akan nikmat-Nya) serta kamu beriman (kepada-Nya)? Dan (ingatlah) Allah sentiasa membalas dengan sebaik-baiknya (akan orang-orang yang bersyukur kepada-Nya), lagi Maha Mengetahui (akan hal keadaan mereka)”. (Surah An-Nisaa’, Ayat 147)

Mereka yang bersyukur merupakan golongan yang istimewa di hadapan Allah, Dia mencintai orang yang mensyukuri-Nya serta membenci orang yang menkufuri-Nya . Dia telah berfirman, yang ertinya,

“Kalaulah kamu kufur ingkar (tidak bersyukur) akan nikmat-nikmat-Nya itu, maka ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah tidak berhajatkan (iman dan kesyukuran) kamu (untuk kesempurnaan-Nya) dan Dia tidak redhakan hamba-hamba-Nya berkeadaan kufur dan jika kamu bersyukur, Dia meredhainya menjadi sifat dan amalan kamu”. (Surah Az-Zumar, Ayat 7)

Allah juga menegaskan, bahawa syukur merupakan sebab kekalnya sesuatu nikmat, sehingga tidak luput malah semakin bertambah, sebagaimana firman-Nya, yang ertinya,

“Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmat-Ku kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azab-Ku amatlah keras”. (Surah Ibrahim, Ayat 7)

Dan masih banyak keutamaan dan manafaat dari rasa syukur kepada Allah, maka munasabahlah sekiranya Allah menyatakan, bahawa amat sedikit dari hamba-hamba-Nya yang bersyukur (dengan sebenarnya).

Hakikat Syukur

Kesyukuran yang hakiki didirikan di atas lima asas utama yang mana barang siapa mengamalkannya, maka dia adalah seorang yang benar-benar bersyukur iaitu,

· Merendahkan diri di hadapan yang dia syukuri (Allah).

· Rasa cinta terhadap Pemberi nikmat (Allah).

· Mengakui seluruh nikmat yang Dia berikan.

· Senantiasa memuji-Nya atas nikmat tersebut.

· Tidak menggunakan nikmat untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah.

Maka dengan demikian syukur adalah merupakan bentuk pengakuan atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan serta menyandarkan nikmat tersebut kepada-Nya, memuji-Nya dan menyebut-nyebut nikmat itu, kemudian hati sentiasa mencintai-Nya, anggota badan taat kepada-Nya serta lidahnya tidak berhenti-henti menyebut-Nya.

Pujian yang Diajarkan Nabi s.a.w

Nabi s.a.w mengucapkan pujian (zikir) di ketika pagi dan petang sebagaimana berikut, yang maksudnya,

“Ya Allah tidak satu pun kenikmatan yang menyertaiku di pagi/petang ini atau yang tercurah kepada salah satu dari makhluk-Mu, maka itu adalah semata dari-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, untuk Mu lah segala puji dan untuk-Mu pula segenap syukur”.

Nabi bersabda bahawa siapa yang membaca zikir ini di waktu pagi, maka ia telah melakukan syukur sepanjang siang harinya, dan barang siapa membacanya ketika petang, maka dia telah melaksanakan syukurnya sepanjang malamnya. (Hadith riwayat Abu Daud, dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi)

Jenis-jenis Syukur

Imam Ibnu Rajab berkata, “Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan”.

· Syukur dengan hati adalah mengakui nikmat tersebut dari Yang Memberi Nikmat, berasal dari-Nya dan atas keutamaan-Nya.

· Syukur dengan lisan iaitu selalu memuji Yang Memberi Nikmat, menyebut nikmat itu, mengulang-ulangnya serta menampakkan nikmat tersebut, Allah s.w.t berfirman, artinya,“Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebut-Nya (dengan bersyukur)”.(Surah ad-Dhuha. Ayat 11)

· Syukur dengan anggota badan iaitu tidak menggunakan nikmat tersebut, kecuali dalam rangka ketaatan kepada Allah s.w.t., berwaspada dari menggunakan nikmat untuk kemaksiatan kepada-Nya.

Setelah kita tahu hakikat dan jenis-jenis syukur, maka marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita telah bersyukur dengan benar, apakah kita telah sejujurnya mencintai Allah, telah tunduk dan mengakui nikmat dan keutamaan yang diberikan Allah? Apakah kita telah benar-benar memuji Allah, adakah kesyukuran itu telah mempengaruhi hati kita, lisan kita dan seluruh tindak tanduk, akhlak dan pergaulan kita?

Kita harus bertanya secara jujur:

· Apakah termasuk syukur, jika seorang muslim atau muslimah meniru-niru gaya hidup orang kafir? Apakah makna syukur bila seorang muslimah mengikuti model dan gaya hidup wanita musuh Allah? Berpakaian terbuka, bertabarruj dan membantah ketetapan syara’ tanpa rasa malu dan segan?

· Apakah termasuk syukur jika seorang muslim meninggalkan solat lima waktu, atau menyia-nyiakannya, atau tidak mahu mengerjakannya dengan berjemaah? Bahkan lebih senang mengikuti perkara bid’ah dan sesat?

· Apakah termasuk orang syukur kalau meremehkan puasa Ramadhan, tidak mahu pergi haji padahal mampu, tidak mahu membayar zakat dan berinfak?

· Apakah merupakan orang yang bersyukur jika tanpa segan silu bergelumang dengan riba, membazirkan harta untuk berfoya-foya, minum-minuman keras, dadah dan seumpamanya?

· Apakah tanda syukur jika seorang pemuda suka beromong-omong kosong, berkumpul-kumpul di tepi jalan, berbual kosong di telepon, membazirkan makanan dan meremehkan nikmat yang dia terima?

Ketahuilah Nikmat Allah

Sesungguhnya mengetahui dan mengenal nikmat, merupakan di antara rukun terbesar dalam bersyukur. Kerana tidak mungkin seseorang dapat bersyukur, jika dia merasa tidak mendapat nikmat. Mengenal nikmat merupakan jalan untuk mengenal Yang Memberi Nikmat, dan kalau seseorang tahu siapa yang memberikan nikmat, maka dia akan mencintainya, sehingga cinta itu akan melahirkan kesyukuran dan terima kasih. Nikmat Allah tidaklah terbatas pada makanan dan minuman sahaja, malah seluruh gerak dan hembusan nafas kita adalah nikmat yang tidak terhingga nilainya.

Abu Darda’ mengatakan, “Barang siapa yang tidak mengetahui nikmat Allah selain makan dan minumnya, maka bererti ilmunya adalah sedikit dan azab telah menimpanya”.

Maka dikatakan, bahawa syukur yang bersifat umum adalah syukur terhadap nikmat makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kesihatan dan kekuatan. Dan syukur yang bersifat khusus adalah syukur atas tauhid, keimanan dan kekuatan hati.

Nikmat-nikmat Yang Utama

Nikmat Allah tidak terhingga banyaknya, dan di antara yang utama yang perlu untuk kita sedari ialah:

· Islam dan Iman

Demi Allah, inilah nikmat yang terbesar, di mana Allah menjadikan kita sebagai muslim yang bertauhid, bukan Yahudi yang dimurkai dan Nashara yang tersesat, yang mengatakan Allah mempunyai anak; Maha Suci Allah dari sifat yang tidak layak ini.

Sufyan Ibnu Uyainah berkata, “Tidak ada satu nikmat pun dari Allah untuk hamba-Nya yang lebih utama, daripada diajarkannya kalimat la ilaha illallah”.

· Penangguhan hukuman ke atas dosa dan ditutupnya dosa kita

Ini juga merupakan nikmat yang sangat besar, kerana jika setiap kali kita melakukan dosa lalu Allah terus membalasnya, maka tentu seluruh alam ini akan binasa. Akan tetapi Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Allah s.w.t. berfirman,

“Dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin” (Surah Luqman, Ayat 20)

Berkata Muqatil, “Adapun (nikmat) yang lahir (nampak) adalah Islam, sedangkan yang batin adalah ditutupnya kemaksiatan yang dilakukan kalian.”

· Peringatan

Peringatan adalah termasuk nikmat yang besar, dan ini merupakan salah satu ketelitian Allah agar hamba-Nya tidak terlena. Tanpa kita duga terkadang ada seseorang yang datang meminta makanan atau sesuatu kepada kita, yang dengan perantaraan orang yang sedang kesusahan tersebut akan membuat kita ingat terhadap nikmat yang diberikan Allah.

· Terbukanya Pintu Taubat

Adalah nikmat yang sangat besar dari Allah sekiranya terbukanya pintu taubat kepada kita, walau sebanyak mana pun dosa dan kemaksiatan kita. Selagi nafas belum sampai di halkum dan selagi matahari belum terbit dari barat, maka pintu taubat selalu terbentang untuk dimasuki oleh siapa saja.

· Menjadi Orang Terpilih

Nikmat ini hanya dapat dirasakan oleh orang yang beristiqamah, wara’, dan selalu menghadapkan diri kepada Allah s.w.t serta tidak menoleh kepada yang lain. Maka Allah menguatkan hatinya ketika fitnah tersebar di sana-sini, meneguhkannya di atas ketaatan ketika orang berpaling darinya. Allah hiasi hatinya dengan iman dan dijadikan cinta kepada-Nya, lalu dia benci terhadap kefasikan dan kemaksiatan. Ini termasuk nikmat paling besar yang harus disyukuri dengan sepenuhnya dan dengan pujian sebanyak banyaknya.

· Kesihatan, Kesejahteraan dan Keselamatan Anggota Badan

Kesihatan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Darda’ r.a. adalah ibarat raja. Sementara itu Salman al Farisi menceritakan tentang seorang yang diberi harta melimpah lalu kenikmatan tersebut dicabut, sehingga dia jatuh miskin, namun orang tersebut masih memuji Allah dan menyanjung-Nya. Maka ada orang kaya lain yang bertanya, “Aku tidak tahu, atas alasan apa engkau masih memuji Allah? Dia menjawab, “Aku memuji-Nya atas sesuatu yang andaikan aku diberi seluruh yang diberikan kepada manusia, maka aku tidak mahu menukarnya”. Si kaya bertanya, “Apakah benda itu?”. Dia menjawab, “Apakah engkau tidak memperhatikan kesejahteraan penglihatanmu, lisanmu, kedua tangan dan kakimu?”.

· Nikmat Harta (Makan Minum dan Pakaian)

Bakar al Muzani berkata, “Demi Allah aku tidak tahu, mana di antara dua nikmat yang lebih utama untukku dan kamu, apakah nikmat ketika masuk (menelan) ataukah ketika keluar dari kita (membuang)?”. Berkata Al-Hasan, “Itu adalah nikmat makanan”

Aisyah r.a berkata, “Tidaklah seorang hamba yang meminum air dingin, lalu masuk ke dalam perut dengan lancar tanpa ada gangguan dan keluarnya juga dengan lancar, kecuali wajib baginya bersyukur”.

Sumber: Kutaib “Aina Asy Syakirun?” Al-Qism al-Ilmi Darul Wathan. Adaptasi dari artikel asal bertajuk “Seberapakah Syukur Kita?” dari www.alsofwah.or.id

BERHENTILAH WAHAI SAUDARAKU

[Muat Turun Artikel – Format PDF]

Saudaraku tercinta! Sesungguhnya alam semesta ini, yang besar mahupun yang kecil, semuanya menghadap kepada Allah s.w.t, bertasbih kepada-Nya, mengagungkan dan bersujud kepada-Nya. Allah s.w.t berfirman yang maksudnya, “Dan tidak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya”. (Surah Al-Isra’, Ayat 44).

Sesungguhnya seluruh makhluk yang Allah ciptakan menundukkan kepalanya, merendahkan diri kepada-Nya dan mengakui keutamaan-Nya. Akan tetapi, di alam semesta ini ada suatu makhluk kecil yang rendah lagi hina. Diciptakan dari setitis air yang hina (mani) tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata. Dia berada di suatu lembah manakala alam semesta berada di lembah yang lain. Ia enggan taat, tidak mahu tunduk dan enggan bertasbih kepada-Nya, meskipun segala sesuatu yang ada di sekelilingnya tekun berzikir dan bertasbih kepada Allah s.w.t. Makhluk kecil ini ialah manusia yang melakukan maksiat kepada Allah s.w.t. Alangkah dahsyatnya kesesatan ini! Alangkah besarnya kebodohan ini! Dan alangkah rendah dan hinanya kerana ia menjadi penyakit di alam yang sempurna ini.

Berapa banyak ia dipujuk supaya bertaubat namun ia enggan untuk bertaubat. Berapa kali ia diminta untuk kembali kepada Allah s.w.t, namun dia enggan untuk kembali, malah sebaliknya ia lari dari-Nya. Berapa banyak diajukan kepadanya perdamaian bersama kekasihnya namun dia enggan berdamai dan mengangkat kepalanya menyombongkan diri.

Saudaraku tercinta! Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah s.w.t berfikirlah sejenak tentang dunia ini dan kehinaannya. Berfikirlah tentang penghuni dan pencintanya. Dunia telah menyeksa mereka dengan seksa yang beraneka ragam. Memberi minum dengan minuman yang paling pahit. Membuat mereka sedikit ketawa dan banyak berlinangan air mata.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah s.w.t. berfikirlah tentang kehidupan dan kekalnya akhirat. Ia adalah kehidupan yang sebenarnya. Ia adalah tempat kembali. Ia adalah penghujung perjalanan.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah s.w.t fikirkanlah sejenak tentang api neraka, bahan bakarnya, gemuruhnya, kedalaman jurangnya dan kedahsyatan panas apinya. Bayangkanlah betapa pedihnya seksa yang dirasakan penghuninya. Mereka di dalam air yang sangat panas dalam keadaan wajah yang tersungkur. Di dalam neraka mereka seperti kayu bakar yang menyala-nyala.

Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah s.w.t., wajib bagimu untuk berfikir tentang syurga dan apa yang telah dijanjikan oleh Allah s.w.t kepada orang-orang yang mentaati-Nya. Di dalam syurga terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, telinga belum pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas dalam hati dan benak manusia, berupa puncak kenikmatan dengan kelazatan yang paling tinggi dengan berbagai jenis makanan, minuman, pakaian, pemandangan, dan kesenangan-kesenangan yang tidak akan disia-siakan kecuali oleh orang-orang yang diharamkan untuk memasukinya.

Saudaraku tercinta! Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah s.w.t ingatlah berapa lama engkau akan hidup di dunia ini? Enam puluh tahun, lapan puluh tahun. Seratus tahun, seribu tahun? Kemudian apa setelah itu? Kemudian kematian pasti akan datang. Di manakah tempat tinggalmu? Syurga-syurga yang penuh dengan kenikmatan ataukah neraka jahim?

Saudaraku tercinta! Yakinlah dengan keyakinan yang sebenar-benarnya, bahawasanya Malaikat Maut yang telah mengunjungi orang lain, sesungguhnya ia sedang menuju ke arahmu. Hanya dalam hitungan tahun, bulan, minggu, hari, bahkan hitungan minit dan saat ia akan menghampirimu. Lalu engkau hidup seorang diri di alam kubur. Tiada lagi harta, keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. Ingatlah dan renungkanlah gelapnya kubur dan keseorangan kamu di dalamnya, sempit ruangannya, sengatan binatang-binatang berbisa, ketakutan yang mencekam dan kedahsyatan pukulan Malaikat Azab.

Saudaraku tercinta! Ingatlah hari Kiamat. Hari di mana kemuliaan hanya di tangan Allah s.w.t. Ketika rasa takut mengisi hati. Ketika engkau berlepas diri dari anakmu, ibumu, ayahmu, isterimu, dan juga saudaramu. Ingatlah suasana kelam-kabut di saat itu. Ingatlah hari di mana neraca diletakkan dan lembaran-lembaran amal manusia beterbangan. Berapa banyak amal kebaikan di dalam bukumu? Berapa banyak ruang-ruang kosong dalam amal-amalmu? Ingatlah tatkala engkau berdiri di hadapan “Al-Malikul Haqqul Mubin” Zat Yang engkau lari dari-Nya. Zat Yang memanggilmu namun engkau berpaling dari-Nya. Engkau berdiri di hadapan-Nya dan di tanganmu lembaran catatan amal yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.

Maka lisan manakah yang engkau gunakan untuk menjawab pertanyaan Allah s.w.t, ketika Ia bertanya kepadamu tentang umurmu, masa mudamu, perbuatanmu, dan juga hartamu. Maka kaki manakah yang engkau gunakan untuk berdiri di hadapan Allah s.w.t.? Dengan mata yang mana engkau memandangNya? Dan dengan lisan manakah engkau menjawab-Nya ketika Ia berkata kepadamu, Hamba-Ku, engkau menganggap remeh pengawasanKu padamu, Engkau anggap sebagai orang yang paling hina dari orang-orang yang memperhatikanmu. Bukankah Aku telah berbuat baik kepadamu? Bukankah Aku telah memberi nikmat kepadamu? Lalu mengapa engkau menderhakaiKu padahal Aku telah memberi nikmat kepadamu.”

Saudaraku tercinta! Tidak sanggupkah engkau bersabar mengerjakan ketaatan kepada Allah s.w.t. untuk beberapa hari yang pendek ini? Detik-detik ini begitu cepat, setelah itu engkau akan meraih kemenangan yang sangat besar dan engkau akan bersenang-lenang di dalam kenikmatan yang abadi.

Saudaraku tercinta! Di sana terdapat segolongan manusia yang berkeyakinan bahawa mereka diciptakan dengan sia-sia dan dibiarkan begitu sahaja. Kehidupan mereka hanya diisi dengan senda gurau dan permainan belaka. Penglihatan mereka tertutup, telinga mereka tuli untuk mendengar petunjuk, hati mereka terbalik, mata mereka buta dan hati mereka tak berfungsi sama sekali. Engkau akan mendapati di majlis-majlis mereka segala sesuatu kecuali Al-Qur’an dan zikir kepada Allah s.w.t.

Mereka meninggalkan Allah s.w.t., padahal mereka adalah hamba-hamba-Nya yang berada di dalam genggaman-Nya. Allah s.w.t. memanggil mereka namun mereka tidak menyahut panggilan-Nya, mereka lebih mendahulukan panggilan syaitan, keinginan, dan hawa nafsu mereka. Ajaib sungguh keadaan mereka! Bagaimana mereka sanggup memenuhi ajakan syaitan dan meninggalkan seruan Allah s.w.t. Ke manakah perginya akal mereka?!

Allah s.w.t. telah berfirman, maksudnya, “Kerana sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Surah Al-Hajj, Ayat 46).

Apa salah Allah s.w.t terhadap mereka sehingga mereka sanggup menderhakai dan tidak mentaati-Nya?! Bukankah Allah s.w.t telah menciptakan mereka? Bukankah Dia telah memberi rezeki kepada mereka? Bukankah Dia telah mencukupi harta mereka dan menyihatkan tubuh mereka? Apakah Allah s.w.t Yang Maha Lembut dan Maha Mulia telah menipu mereka?

Apakah mereka tidak takut jikalau kematian mendatangi mereka di saat sedang bermaksiat kepada Allah s.w.t? Sebagaimana firman-Nya, maksudnya, “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak disangka-sangka)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang rugi.” (Surah Al-A’raf, Ayat 99).

Hindarilah dirimu untuk menjadi sebahagian dari mereka dan jauhkanlah dirimu dari mereka. Beramallah untuk sesuatu yang engkau diciptakan, iaitu, beribadah kepada Allah s.w.t. Sesungguhnya, demi Allah, engkau diciptakan untuk sesuatu yang sangat agung. Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud, “Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (Surah Az-Zariyat, Ayat 56).

Saudaraku tercinta! Wahai engkau yang sedang melakukan maksiat kepada Allah! Kembalilah kepada Tuhanmu dan takutlah akan api neraka. Sesungguhnya di hadapanmu terbentang berbagai kesulitan. Sesungguhnya di hadapanmu terbentang dua pilihan, kehidupan penuh nikmat atau kehidupan penuh seksa. Sesungguhnya di hadapanmu terhampar kalajengking-kalajengking, ular-ular dan masalah-masalah yang sukar dan pelik. Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, tawa tidak dapat memberi manfaat kepadamu. Nyanyian-nyanyian, filem-filem, dan perkara-perkara hina tidak dapat memberi manfaat kepadamu. Aneka surat khabar dan majalah tidak mampu memberi manfaat kepadamu. Isteri, anak-anak, teman dan sahabat tidak dapat memberi manfaat kepadamu. Harta yang melimpah tidak akan memberi manfaat kepadamu. Tidak ada yang mampu memberi manfaat kepadamu kecuali kebaikan-kebaikan dan amal-amal soleh yang engkau kerjakan selama hidupmu di dunia.

Saudaraku tercinta! Demi Allah tidaklah aku menulis perkataan ini melainkan kerana kasihan aku kepadamu. Aku khuatir wajah putihmu ini berubah menjadi hitam pada hari kiamat. Aku takut wajah bercahayamu ini akan berubah menjadi gelap. Aku gusar tubuh yang sihat ini akan diratah oleh api neraka. Maka bersegeralah, semoga Allah s.w.t memberi taufik kepadamu, untuk membebaskan dirimu dari api neraka. Nyatakanlah ia sebagai taubat yang sebenarnya dari sekarang. Yakinlah bahawasanya selamanya engkau tidak akan menyesal melakukan itu. Bahkan sebalikya, dengan izin Allah s.w.t, engkau akan merasakan kebahagiaan. Hindarilah keraguan atau menangguh-nangguhkannya. Sesungguhnya aku, demi Allah, ingin menjadi penasihat bagimu.

Disaring oleh  https://darulkautsar.wordpress.com/ dari ringkasan dari, “Akhil Habib Qif”, Ibrahim Al-Ghamidy oleh Sdr Zainal Abidin (www.alsofwah.or.id/ )